
JENEWA – Sekitar 17.000 anak di Jalur Gaza, Palestina, saat ini hidup tanpa pendampingan atau terpisah dari orang tua atau kerabat mereka.
Jonathan Crickx, Kepala Komunikasi di Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) untuk Negara Palestina, menyatakan bahwa jumlah tersebut setara dengan 1 persen dari 1,7 juta warga yang mengungsi di Gaza, dengan total populasi daerah tersebut sekitar 2,3 juta jiwa.
Crickx, yang baru saja mengunjungi Gaza, menyebut bahwa dari 12 anak yang ditemuinya, tiga di antaranya telah kehilangan orang tua mereka.
“Di balik setiap statistik itu terdapat seorang anak yang harus menerima kenyataan baru yang mengerikan ini,” katanya.
Ia menyoroti kisah Razan (11), yang kehilangan hampir semua anggota keluarganya dan harus menjalani amputasi kaki.
Crickx mengungkapkan bahwa Razan masih mengatasi trauma dan belajar hidup dengan disabilitas di tengah kurangnya layanan rehabilitasi.
“Dia masih terguncang, belajar untuk hidup dengan disabilitas dalam konteks di mana layanan rehabilitasi tidak tersedia,” ungkap Crickx.
Kondisi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makanan, air, dan tempat tinggal juga berdampak buruk pada kesehatan mental anak-anak Palestina.
Mereka menunjukkan tingkat kecemasan yang tinggi, kehilangan nafsu makan, insomnia, dan kepanikan saat terdengar suara pengeboman.
Crickx menyatakan bahwa UNICEF memperkirakan hampir semua anak di Gaza, lebih dari satu juta, memerlukan dukungan kesehatan mental dan psikososial.
“Satu-satunya cara agar dukungan kesehatan mental dan psikososial ini dapat diberikan dalam skala besar adalah dengan gencatan senjata,” pungkasnya.




