
DI BALIK ketenangan permukaan air Teluk Chetumal, Meksiko tersimpan misteri yang mengejutkan para ilmuwan yakni sebuah blue hole atau lubang biru raksasa bernama Taam ja’.
Kompas.com mengutip The Earth (21/2) menyebutkan, awalnya, para peneliti mengira pemetaan lubang bawah laut ini akan berjalan sederhana.
Namun, pengukuran terbaru justru menunjukkan bahwa Taam ja’ jauh lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya, bahkan dasarnya belum berhasil disentuh.
Pada penelitian awal, pemetaan menggunakan sonar memperkirakan kedalaman Taam ja’ pada angka 274 meter.
Sebagai informasi, sonar bekerja dengan mengirimkan gelombang suara ke dasar dan menghitung waktu pantulnya, namun, metode ini ternyata tidak akurat untuk memetakan blue hole, sebagaimana dilansir Earth.
Para peneliti menemukan bahwa kondisi air di dalam lubang ini sangat fluktuatif. Perubahan suhu dan salinitas (kadar garam) ekstrem yang dapat membiaskan gelombang suara.
Tidak lurus sempurna
Selain itu, dilaporkan bentuk lubang biru yang tidak lurus sempurna, memiliki tonjolan, dinding miring dan lorong samping, membuat sinyal sonar sering memantul lebih awal sebelum mencapai dasar laut.
Untuk mengatasi kendala sonar, tim peneliti menggunakan alat conductivity, temperature, and depth (CTD).
Alat ini mengukur konduktivitas untuk memperkirakan salinitas, suhu secara langsung, dan kedalaman berdasarkan tekanan air.
Berdasarkan laporan penelitian, tim melakukan dua kali percobaan pada Desember 2023. Meskipun telah menurunkan kabel sepanjang 500 meter, alat tersebut tidak jatuh lurus ke bawah karena terdorong arus atau struktur lubang yang miring.
Meski demikian, hasil yang didapat tetap mencengangkan. Pada percobaan pertama, CTD mencatat kedalaman 416 meter di bawah permukaan laut.
Pada percobaan kedua, alat mencapai 423,6 meter dan tetap belum menyentuh dasar lubang.
Taam ja’ dipastikan lebih dalam dari 423,6 meter, dan titik terdalamnya hingga kini masih belum terkonfirmasi,” tulis laporan tersebut.
Lapisan kontras
Selain masalah kedalaman, alat CTD mengungkap bahwa air di dalam Taam ja’ memiliki lapisan-lapisan yang sangat kontras.
Di bagian atas, kondisi air menyerupai muara yang hangat dengan kadar garam rendah.
Namun, saat alat turun melewati kedalaman 400 meter, tren suhu justru merayap naik dan salinitas meningkat tajam.
Karakteristik air di lapisan terdalam ini sangat mirip dengan air laut Karibia.
Temuan ini memunculkan dugaan kuat bahwa Taam ja’ tidak terisolasi, melainkan memiliki terowongan atau jaringan gua bawah tanah yang menghubungkannya langsung dengan laut lepas.
Secara geologis, wilayah Yucatan memang didominasi batuan kapur atau limestone yang mudah larut dan membentuk jaringan gua bawah tanah yang rumit.
Para peneliti kini menargetkan pembuatan model 3D untuk memetakan interior Taam ja’ secara utuh.
Pertanyaan besar mengenai stabilitas lapisan air, kandungan oksigen, hingga komunitas mikroba yang mampu bertahan hidup di sana menjadi fokus penelitian berikutnya.
Taam ja’ tetap menjadi misteri yang mendalam secara harfiah. Fakta bahwa dasarnya belum ditemukan memaksa para ilmuwan untuk merancang ulang peralatan dan metode penyelaman di masa depan.
Studi lengkap mengenai penemuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Marine Science, namun kedalaman Taam ja’ masih tetap misteri. (The Earth/Kompas.com/ns) om)




