Pengalaman Jelang Ajal

Pengalaman orang menjelang ajal (Near- death Experience -NDE) (Ilustrasi-Detik.com)

KEMATIAN masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam dunia medis. Bukan soal proses biologinya, melainkan pengalaman saat seseorang berada di ambang ajal (Near-death Experience – NDE).

Ketika jantung berhenti dan otak tidak lagi berfungsi, apakah kesadaran juga ikut lenyap?
Detik.com megutip laman Psychology Today (14/4) mengungkapkan, pertanyaan ini sulit dijawab oleh orang yang belum pernah mengalaminya. Tetapi, ada banyak orang yang sempat dinyatakan mati secara klinis, lalu berhasil diresusitasi atau diselamatkan nyawanya dan membawa cerita yang mengejutkan.

Banyak dari mereka mengaku tetap sadar, bahkan mengalami banyak kejadian yang terasa sangat nyata, yang secara medis seharusnya tidak merasakan apa pun.
Pengalaman Orang-orang yang Pernah ‘Mendekati Kematian’

Salah satu kisah dialami Jeff Olsen pada 1999. Saat itu, ia selamat dari kecelakaan mobil yang menewaskan istri dan bayi laki-lakinya.

Jeff bahkan sempat dinyatakan mati secara klinis dan beberapa kali diresusitasi. Ia menggambarkan pengalaman yang tidak berupa kegelapan atau kehampaan.
Hal yang dialaminya justru seperti merasakan kesadaran yang luas dan emosional.

Jeff menyaksikan kejadian dari atas, ia bertemu sosok istri dan anaknya, serta merasakan pemahaman mendalam tentang cinta.
Jeff tidak merasa mati, ia justru merasa lebih hidup dibandingkan sebelumnya dan kisah serupa juga dialami Don Piper. Pada 1989, mobilnya hancur tertabrak truk di Texas dan dinyatakan meninggal di tempat selama sekitar 90 menit.

Namun setelah sadar kembali, ia menceritakan pengalaman berupa cahaya terang, musik, hingga pertemuan dengan anggota keluarga yang telah meninggal.
Pengalaman lainnya dialami George Ritchie pada 1943. Ia dinyatakan meninggal selama sembilan menit akibat pneumonia berat.

Ia mengaku melihat tubuhnya dari atas, bergerak dengan cepat melintasi ruang, hingga bertemu ‘makhluk cahaya’ yang membawanya meninjau kembali kehidupannya.
Pengalaman ini kemudian menjadi inspirasi penelitian tentang fenomena yang dikenal sebagai near-death experience (NDE).

Dianggap sebagai halusinasi
Selama bertahun-tahun, pengalaman mendekati kematian dianggap sebagai halusinasi akibat otak kekurangan oksigen atau lonjakan zat kimia. Namun, sejumlah penelitian justru menunjukkan hal yang lebih kompleks.

Ahli jantung Belanda Pim van Lommel dalam studinya yang dipublikasikan di jurnal The Lancet tahun 2001 meneliti pasien henti jantung. Hasilnya, sekitar 18 persen melaporkan pengalaman NDE, termasuk sensasi keluar dari tubuh dan melihat cahaya.

Temuan ini menarik karena terjadi saat pasien mengalami henti jantung, kondisi saat aktivitas otak seharusnya sangat minim atau bahkan tidak ada.

Sementara itu, Sam Parnia melalui studi AWARE yang dipublikasikan dalam jurnal Resuscitation tahun 2014 menemukan bahwa sebagian pasien mampu mengingat kejadian secara akurat saat mereka dinyatakan mati secara klinis.

Sam menyimpulkan bahwa kematian bukanlah satu momen tunggal, melainkan sebuah proses. Peneliti lain, Bruce Greyson, juga menemukan bahwa banyak pengalaman NDE memiliki pola serupa. Termasuk persepsi di luar tubuh dan tinjauan kehidupan yang sangat detail.

Ia menyebut kesadaran mungkin tidak sepenuhnya dihasilkan oleh otak, melainkan sesuatu yang ‘disaring’ oleh otak. Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa berhentinya fungsi jantung dan otak tidak selalu berarti akhir dari kesadaran.

Meski belum menjadu bukti kehidupan setelah kematian, penelitian tersebut mengindikasikan bahwa pemahaman manusia tentang kesadaran masih belum lengkap.

Banyak laporan menunjukkan bahwa orang yang ‘kembali’ dari kondisi kritis tidak mengalami kehampaan, melainkan merasakan kejelasan yang intens.

Jawabannya mungkin tidak sesederhana ya atau tidak. Tetapi dari berbagai kisah dan penelitian, pengalaman mendekati kematian justru sering digambarkan sebagai sebuah transformasi kesadaran, bukan sekadar akhir.

Bagi tenaga medis, temuan ini menjadi pengingat penting dalam mendampingi pasien di akhir hayat. Selain itu juga membuka diskusi baru tentang batas antara hidup dan mati, yang ternyata tidak sesederhana yang selama ini diyakini, sementara bagi orang beriman, kematian adalah rahasia dan hak prerogatif Allah.
(detik.com/Psychology Today)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here