JAKARTA – Duta Besar Norwegia untuk PBB pada 2019-2023, Mona Juul, menyatakan bahwa solusi dua negara atau two-state solution adalah cara terbaik untuk menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel.
Juul menyampaikan pandangannya dalam sebuah diskusi tentang situasi Gaza di Kantor Sekretariat Foreign Policy Community Indonesia (FPCI), Jakarta, Kamis (30/5/2024).
“Menurut kami solusi dua negara adalah yang terbaik dari keduanya, karena tentu saja jelas perjuangan rakyat Palestina terhadap negaranya sendiri. Dan, menurut saya, hal ini juga harus menjadi argumen bagi Israel, karena ini adalah satu-satunya cara yang juga diklaim oleh Israel untuk terus menjadi negara Yahudi,” kata Juul.
Juul menjelaskan bahwa pada 1993, Norwegia memiliki hubungan baik dengan Israel dan menjadi mediator antara Israel dan Palestina yang telah lama bersitegang.
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) secara khusus meminta bantuan Norwegia untuk berkomunikasi dengan Israel. Setelah negosiasi selama sembilan bulan, Norwegia berhasil membantu kedua pihak mencapai kesepakatan.
“Kita berhasil membuat mereka saling mengakui satu sama lain. Israel mengakui PLO sebagai perwakilan sah Palestina dan PLO mengakui Israel sebagai sebuah negara,” ucapnya.
Kedua pihak juga menyepakati prinsip yang mengarah pada solusi dua negara dan setuju untuk membentuk Otoritas Palestina, termasuk mengambil alih Tepi Barat secara bertahap.
Perjanjian Oslo, yang berisi serangkaian kesepakatan antara Israel dan PLO untuk proses perdamaian melalui solusi dua negara, disepakati setahun kemudian pada 1994.
Namun, Juul menegaskan bahwa kedua pihak tidak benar-benar menjalankan komitmen tersebut, hingga terjadi serangan balasan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.
“Kami sangat kuat dalam kecaman kami, tentu saja atas serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober, namun sama kuatnya dalam kecaman kami terhadap peperangan Israel di Gaza, melanggar Konvensi Jenewa dalam menguasai hukum humaniter, melanggar hukum internasional,” kata Juul.





