Omicron Sedang Menuju Puncaknya

Kasus paparan Covid-19 terus melonjak menuju puncaknya, namun korban terpapar diharapkan tidak buru-buru dirujuk ke RS karena tingkat fatalitas varian Omicron lebih rendah, dianjurkan untuk isolasi mandiri agar fasyankes tak kewalahan

ANGKA penambahan penyebaran harian Covid-19 termasuk varian baru Omicron terus bergerak secara eksponensial menuju puncaknya yang diperkirakan akan terjadi pada akhir Februari atau Maret.

Berdasarkan laporan Satgas Covid-19, paparan harian yang pada 15 Januari lalu mencapai angka terendah (464 kasus) setelah mencapai rekor pada 15 Juli 2021 sebanyak 56.757 kasus, terus bergerak cepat, dan Kamis (3/2) tercatat sudah mencapai 27.197 kasus atau hampir separuhnya .

Sementara angka kematian, walau pun mulai terjadi kenaikan dibandingkan angka terendah yakni satu kematian pada 2 Jan. dibandingkan puncaknya pada 27 Juli 2021 dengan 2.069 orang, secara perlahan juga merambat naik, yakni 38 orang pada Kamis (3/2).

Yang agak melegakan, walau penularan varian Omicron (B.1.529) beberapa kali lipat dibandingkan varian Delta (B.1.1.7) yang mendominasi kasus-kasus paparan Covid-19 sebelumnya, tingkat fatalitasnya jauh lebih rendah.

Mengacu pada lonjakan Covid-19 di berbagai negara akhir-akhir ini, di Indonesia juga diprediksi, pertambahan jumlah orang terpapar pada puncaknya (akhir Feb. atau Maret) diprediksi  bisa mencapai 150.000 kasus.

Orang yang terjangkit varian Omicron umumnya hanya mengalami gejala ringan seperti demam, radang tenggorokan atau pusing, bahkan sebagian tanpa gejala sama sekali.

Jangan buru-buru ke RS

Untuk itu, epidemiolog Windu Purnomo dari Universitas Airlangga mengimbau agar masyarakat yang terpapar Omicron tidak buru-buru ke RS, lebih baik melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing atau isolasi terpusat jika tersedia.

Masalahnya, jika orang berduyun-duyun dirawat di RS, fasyankes tersebut bisa kolaps, padahal masih banyak yang membutuhkan yakni pasien dengan komorbid yang lebih dulu diselamatkan.

Seruan Windu beralasan, karena menurut catatan, 83 persen pasien Covid-19 yang diawat di berbagai RS rujukan di Indonesia adalah mereka ang bergejala ringan atau tanpa gejala.

Sementara Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan Abraham Wirotomo mengemukakan, pemerintah sedang menyiapkan fasilitas isolasi terpusat, termasuk RS lapangan yang bisa menampung 150.000 pasien di seluruh Indonesia.

Sementara mengenai, pelevelan PPKM, menurut dia, akan mengacu  sesuai assement tiap daerah terkait penyebarannya , selain tingkat 3 T (testing, tracing dan treatment).

Windu mengingatkan, untuk menghdapi lonjakan Coid-19 terutama varian Micron yang berdaya tular tinggi, tetapi fatalitasnya rendah, yang harus lebih diperhatikan adalah tingkat keterisian RS (BOR) dan angka kematian.

Tingginya penambahan kasus harian, walau perlu dipantau juga, tetapi ancaman ambruknya fasyankes akibat serbuan pasien yang selayaknya bisa dirawat di rumah dan juga naiknya angka kematian harus lebih diwaspadai.

“Ayoa siap siaga menghadapi outbreak Covid-19!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement