Operasi Eternal Darkness: 50 Jet Tempur Israel Hantam 100 Target di Lebanon dalam 10 Menit

Sebanyak 50 jet tempur Israel menjatuhkan sedikitnya 160 bom yang menyasar 100 target strategis kelompok Hizbullah di seluruh penjuru Lebanon. (Foto: AFP)

Jakarta, KBKNews.id – Suasana tenang di pusat Kota Beirut berubah seketika menjadi neraka pada Rabu (8/4/2026). Hanya dalam waktu singkat, guncangan hebat akibat ledakan beruntun melumpuhkan ibu kota Lebanon. Em Walid, seorang pemilik toko pakaian, menceritakan betapa mencekamnya momen tersebut saat kota yang ia cintai tiba-tiba dihujani bom.

“Bahkan kucing-kucing jalanan di luar pun mulai berlari ketakutan,” ungkapnya dilansir dari Al Jazeera dengan nada gemetar saat diwawancarai pasca-serangan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Militer Israel (IDF) mengonfirmasi, mereka telah mengerahkan 50 jet tempur dalam operasi kilat bertajuk “Eternal Darkness”. Dalam durasi hanya 10 menit, armada udara tersebut menjatuhkan sedikitnya 160 bom yang menyasar 100 target strategis kelompok Hizbullah di seluruh penjuru Lebanon.

Korban Jiwa Berjatuhan di Kawasan Padat Penduduk

Dampak dari operasi udara besar-besaran ini sangat mengerikan. Laporan terbaru mencatat sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.160 lainnya luka-luka. Tim penyelamat masih terus berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang tertimbun di bawah reruntuhan gedung-gedung yang luluh lantak.

Serangan ini menghantam kawasan permukiman padat penduduk tanpa adanya peringatan evakuasi terlebih dahulu. Rumah sakit di seluruh Beirut kini berada dalam kondisi darurat dan kewalahan menangani arus pasien. Di American University of Beirut Medical Center, puluhan warga mengantre untuk mendonorkan darah sebagai bentuk solidaritas di tengah krisis.

Teka-teki Gencatan Senjata: Lebanon yang Terlupakan

Tragedi ini terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan mulai berlaku. Namun, status Lebanon dalam perjanjian dua minggu tersebut menjadi sumber kebingungan internasional. Sementara Teheran dan Islamabad bersikeras Lebanon termasuk dalam kesepakatan, Washington dan Tel Aviv justru mengambil sikap sebaliknya.

Presiden AS Donald Trump menegaskan, konflik di Lebanon adalah “pertempuran terpisah”. Senada dengan Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan gencatan senjata tersebut “tidak mencakup Lebanon”.

“Netanyahu ingin memanfaatkan situasi yang masih cair ini untuk memaksimalkan capaian operasional di Lebanon,” ujar Dania Arayssi, analis senior dari New Lines Institute for Strategy and Policy.

Rantai Dendam dan Eskalasi Perang

Pihak Hizbullah mengecam keras serangan ini dan menyebutnya sebagai kejahatan brutal yang hanya akan memperkuat hak mereka untuk melawan. Eskalasi terbaru ini bermula sejak awal Maret 2026, menyusul pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang dilakukan oleh aliansi AS-Israel pada akhir Februari lalu.

Sejak invasi darat dan pengeboman tanpa henti dimulai sebulan lalu, sekitar 1.700 orang telah tewas di Lebanon. Lebih dari 1,2 juta jiwa terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka.

“Darah para martir dan yang terluka tidak akan ditumpahkan dengan sia-sia. Pembantaian hari ini menegaskan hak alami kami untuk melawan pendudukan dan membalas agresi,” tegas pernyataan resmi dari pihak Hizbullah.

Asap Membubung di Seluruh Negeri

Seorang mahasiswa filsafat di Beirut mengenang bagaimana asap hitam pekat membumbung tinggi dari berbagai sudut kota sesaat setelah serangan pertama terjadi.

“Jumlah ledakannya terlalu banyak untuk dihitung,” katanya.

Serangan kali ini bahkan menyasar area-area di pusat Beirut yang sebelumnya dianggap aman dan tidak pernah tersentuh konflik pada tahun-tahun sebelumnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here