
DAMPAK pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait tata kelola dan transparansi Pasar Modal di Indonesia diperkirakan masih menekan pasar modal dalam beberapa bulan ke depan.
Kompas.com melaporkan, volatilitas dinilai belum mereda hingga tenggat evaluasi Mei 2026. Chief Investment Officer Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia Samuel Kesuma menyampaikan ketidakpastian masih membayangi arah kebijakan MSCI.
“Kami perkirakan fluktuasi tinggi di pasar saham masih terjadi 2–3 bulan ke depan,” kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2).
Samuel menilai situasi ini berpotensi mempercepat reformasi pasar modal. Dampaknya bersifat jangka panjang dan dinilai positif dan mengembalikan daya tarik terhadap saham berbasis fundamental.
Pengumuman MSCI terkait transparasi dan tatakelola pasar modal di Indonesia yang perlu diperbaiki telah memicu respons pemerintah sehingga sejumlah aturan pasar modal harus diubah untuk meredam dampak lanjutan.
Samuel menyebut MSCI sempat mengindikasikan potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks global. Opsi reklasifikasi dari emerging market ke frontier market juga mencuat.
Skenario tersebut berisiko memicu aksi jual investor asing. “Saat ini skenario reklasifikasi turun ke frontier market dipandang memiliki probablitas rendah, karena respons dari regulator dan pemerintah yang cepat dan serius,” kata dia.
Pemerintah mengubah ketentuan likuiditas saham beredar. Ambang batas free float kini ditetapkan sebesar 15 persen.
Penguatan aspek transparansi
Aspek transparansi turut diperkuat dengan mewajibkan keterbukaan data ultimate beneficial owner. Aturan pengungkapan kepemilikan saham juga diperluas dari batas lima persen menjadi satu persen.
Tata kelola pasar turut disentuh. Perubahan mencakup percepatan demutualisasi bursa, penguatan penegakan aturan, sanksi, serta tata kelola emiten.
Samuel menyampaikan strategi investasi tetap difokuskan pada perusahaan berfundamental kuat. Pertimbangan valuasi juga menjadi perhatian utama.
Aksi jual yang terjadi secara luas dinilai membuka peluang dan valuasi saham dengan kinerja solid menjadi lebih menarik.
“Beberapa perusahaan dengan kapitalisasi besar saat ini bahkan menawarkan dividen yield yang lebih tinggi dari imbal hasil obligasi negara,” ucap Samuel.
Koreksi pasar juga direspons emiten melalui program pembelian kembali saham. Langkah ini ditempuh emiten yang menilai harga saham berada di bawah nilai wajar.
Setelah tekanan pasar mereda, peluang pemulihan dinilai terbuka. Saham dengan pertumbuhan laba dan arus kas kuat diproyeksikan pulih lebih cepat.
“Kami melihat dinamika pasar saham ke depannya memiliki peluang untuk menjadi lebih sehat,” ucap Samuel.
Fokus investor diperkirakan bergeser. Likuiditas yang sebelumnya terkonsentrasi pada saham kandidat indeks MSCI berangsur mengalir ke saham berbasis kinerja. “Seperti ekspektasi pertumbuhan laba yang superior atau prospek pembayaran dividen yang menarik,” demikia Samuel.
Perbaikan terkait transparansi dan tata kelola pasar modal merupakan keniscayaan yang harus terus dilakukan jika tidak ingin investor hengkang. (Kompas.com/ns)




