
Pasokan Pupuk Juga Terimbas Perang di Timteng
TIDAK HANYA minyak bumi, rantai pasokan pupuk global juga dibayangi gangguan signifikan menyusul berlanjutnya penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran (28/2).
Kondisi ini seperti dilaporkan oleh the Guardian (11/3), bakal memicu kekhawatiran serius di kalangan analis terkait keberlangsungan produksi tanaman dan ketahanan pangan dunia.
Lalu lintas di jalur perairan vital tersebut sebagian besar terhenti sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, padahal, Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi sekitar seperempat hingga sepertiga perdagangan global bahan baku pupuk.
Penutupan selat sempit yang vital bagi pelayaran kapal-kapal tanker pengngkut pupuk dan minyak bumi secara de facto berdampak pada pengangkutan amonia dan nitrogen, komponen utama ragam produk pupuk sintetis.
Perlu dicatat, sekitar separuh dari produksi pangan global bergantung pada nitrogen sintetis. Tanpa pasokan pupuk yang memadai, hasil panen dipastikan bakal menurun.
Minimnya ketersediaan pupuk memaksa petani mengurangi dosis pemakaian pada tanaman mereka, sehinga bakal berujung pada penurunan produktivitas lahan yang lalu memicu lonjakan harga pangan.
Teluk Persia merupakan lokasi beberapa pabrik pupuk terbesar di dunia, sehingga penutupan transportasi berkepanjangan dapat mengganggu produksi dan meningkatkan biaya.
Setelah Rusia, Mesir, dan Arab Saudi, Iran adalah pengekspor urea terbesar keempat di dunia, yang merupakan pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan.
Kemampuan untuk memproduksi pupuk terpengaruh oleh ketersediaan bahan baku dan meningkatnya biaya energi yang digunakan dalam produksi.
Gas fosil berkontribusi antara 60-80 persen dari biaya produksi pupuk nitrogen.
Pasokan terganggu
Pasokan nitrogen global diperkirakan akan semakin terganggu oleh penutupan pembangkit listrik tenaga gas fosil di Teluk, sementara, Qatar telah menutup fasilitas terbesarnya setelah serangan pesawat tak berawak.
Kondisi ini mengingatkan akan lonjakan biaya gas dan pupuk pada awal 2022 setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.
Grup CRU, perusahaan kosultan perdagangan komoditas menyebutkan, harga urea di Mesir yang dijadikan patokan, naik lebih dari 25 persen, dari antara 484 – 490 dollar AS menjadi 625 dollar AS per metrik ton.
Timur Tengah juga pneghasil sekitar 45 persen perdagangan global sulfur, bahan baku utama pupuk, serta berbagai logam dan bahan kimia industri.
“Meskipun banyak kesamaan dengan 2022, implikasi ‘demand and supply’ dari konflik di Timur Tengah berpotensi jauh lebih parah dan luas, terutama jika pembatasan Selat Hormuz lebih dari dua minggu,” ungkap pernyataan CRU Group.
Perang ternyata cuma menyengsarakan umat manusia selain menjadi korban langsung, juga berdampak pada perekonomian global. (the Guardian/kompas.com/ns)




