CACAR monyet yang sudah terdeteksi di puluhan negara, walau baru satu di Indonesia, itu pun sudah sembuh, perlu diantisipasi dan dimonitor terus penyebarannya termasuk dengan menyiapkan vaksinasi.
Ketua Satgas Cacar Monyet PB IDI, Hanny Nilasari, (2/9) mengemukakan, edukasi dan sosialisasi tentang cacar monyet bagi masyarakat harus lebih massif dilakukan.
“Pemahaman yang lebih baik masyarakat dan tenaga kesehatan penting dalam upaya melakukan deteksi dini pada kasus, “ ujarnya.
Gejala cacar monyet yang paling sering adalah demam selain pembengkakan kelenjar getah bening, lemas, letih dan nyeri otot serta muncul lesi di kulit dan mukosa (lapisan kulit dalam).
Sejauh ini pengobatan cacar monyet dilakukan sesuai gejalanya, sementara vaksinasi juga bisa dilakukan tetapi belum secara massal.
Menurut catatan Kemenkes pada Agustus 2020 ada satu kasus cacar monyet di Indonesia, empat kasus suspek dalam pemeriksaan dan 41 kasus lain yang sebelumnya diduga cacar monyet, tidak terbukti sehingga discarded (diabaikan).
Sedangkan bagi penduduk yang lahir sebelum 1980 sudah divaksin cacar air (smallpox) namun sejak berhasil dibasmi pada 1981, vaksinasi smallpox dihentikan.
Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BP POM) Penny Lukito mengemukakan, saat ini vaksin yang tersedia di Indonesia adalah varicella diperuntukkan bagi chickenpox atau cacar air sedangkan yang direkomendsikan di luar negeri adalah smallpox atau monkeypox).
Menurut dia, ada tiga skema yang ditawarkan BPOM untuk ketersediaan vaksin di Indonesia yakni pertama perluasan akses dengan uji klinik, kedua penggunaan izin penggunaan darurat (EUA) seperti untuk vaksin SARS-CoV-2 dan ketiga melalui Skema Akses Sosial (SAS) atau vaksin yang sudah disetujui oleh negara lain dan digunakan secara terbatas.
Lebih baik siap-siap sebelum terlanjur!





