Pemilu Fiji Deadlock

Foto: PM petahana Fiji Frank Bainimarama bertarung dengan mantan PM Sitiveni Rbuka. Sampai hari ini, Minggu (18/12) hasilnya masih deadlock karena keduanya tidak mampu meraih suara mayoritas di parlemen.

HASIL akhir Pemilu di Fiji yang diumumkan Minggu (18/12) menemui jalan buntu (deadlock) setelah PM petahana Frank Bainimarama dan oposisi, Sitiveni Rabuka gagal meraih mayoritas  kursi di parlemen.

Partai Fiji First pimpinan Bainimarama dan koalisi pimpinan Rabuka masin-masing hanya mampu meraih 26 kursi dari 55 kursi parlemen.

Perolehan suara yang menggantung tersebut, mengutip laman Malay Mail, menutup kampanye penuh gejolak di negeri kepulauan di Pasifik Selatan itu yang diwarnai tuduhan manipulasi dan seruan agar militer mengintervensi.

Pemerintah baru, kemungkinan baru bisa dibentuk melalui proses negosiasi panjang dimana kedua kontestan berusaha mendekati Partai Sosial Demokrat yang memiliki tiga kursi di parlemen.

Ketua PSD Vilame Gavoka yang dinilai sangat religius dan mantan Ketua Persatuan Rugby Fiji sebelumnya pernah berselisih paham baik dengan Rabuka mau pun Bainimarama.

Gavoka pernah ditangkap karena mengunggah postingan tentang seorang pendeta yang menyampaikan kabar adanya gelombang tsunami yang ternyata hoaks.

Walau hanya berpenduduk sekitar 900-ribu orang , hasil pemilu Fiji memiliki dampak signifikan di kawasan, khususnya terkait tarik-menarik hegemoni antara Ameika Serikat dan China.

Fiji dibawah Bainimarama yang memberlakukan kebijakan “melihat ke utara” lebih condong ke Beijing, pasca pengenaan sanksi oleh Australia dan Selandia Baru pada 2006.

Sebaliknya, Rabuka jika memenangi Pemilu, berjanji akan menjauhkan negaranya dari China, akan mengevaluasi perjanjian yang sudah dibuat dan mengesampingkan pakta pertahanan dengan China.

Baik Rabuka mau pun Bainimarama yang berlatar belakang militer meraih tampuk kekuasaan Fiji melalui aksi kudeta.

Rabuka menjadi PM pada periode 1992 – 1999 dan sebelumnya saat berpangkat kolonel (pada 1987) memimpin kudeta terhadap pemerintah yang diisi mayoritas etnis India. Melalui aksi kudeta, ia mendorong etnis Fiji mengambil alih pemerintahan.

Sementara Bainimarama merebut kekuasaan dari pemerintahan sebelumnya pada 2006 dan memenangi dua pemilu berikutnya (2014 dan 2018) dan kini bersaing untuk memperebutkan jabatan ketiga. (AFP/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement