JAKARTA (KBK) – Berdasarkan data yang dirilis oleh banyak penelitian, Indonesia merupakan negara nomor 4 terburuk dalam hal kesenjangan Ekonomi setelah Rusia, China dan Thailand.
Menurut Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih ada 6 penyebab ketimpangan di Indonesia.
Pertama, fundamental pasar yang mendorong orang kaya meraup keuntungan besar dari pertumbuhan ekonomi. Kedua political capture yang meningkat yang membuat orang kaya dapat memberikan pengaruhnya terhadap kebijakan ekonomi yang menguntungkan mereka.
Berikutnya kesetaraan gender; keempat akibat upah murah; kelima ketimpangan akses antar pedesaan dan perkotaan terhadap infrastruktur dan terakhir sistem perpajakan yang gagal memainkan peran pentingnya dalam mendistribusikan kekayaan negara.
“Saat ini 1 persen orang di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Ini ketimpangan yang sangat besar,” ujar Lana dalam diskusi Rembuk Republik bertema ‘Solusi Atas Masalah Ketimpangan Ekonomi’ di Jakarta, Selasa (28/2/2017).
Menanggapai paparan Lana, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Evi V Panggabean mengatakan bahwa Kemensos bersama BI memiliki 5 cara guna mempersempit jurang kesenjangan.
Pertama BI bersama pemerintah tengah bekerjasama melalui beberapa sistem pembayaran dan program di seluruh sektor keuangan, Optimaliasasi agen keuangan digital, memandirikan masyarakat melalui UMKM, mengedukasi layanan keuangan kepada masyarakat dan yang terakhir memaksimalkan pemanfaatan teknologi keuangan ke seluruh pelosok negri.
“Salah satunya juga dalam bentuk bantuan sosial padat karya berbasis pemberdayaan khususnya untuk nelayan dan petani untuk menggenjot ekonomi lokal,” terang Eni.
Diskusi publik ini diselenggarakan kerjasama Dompet Dhuafa, Republika dan Bank Indonesia





