spot_img

Peran Media Dalam Bencana Alam

Sedikit mengulas peran media dalam bencana alam. Media memiliki peran
penting dalam bencana alam. Melalui media informasi mengenai bencana
alam dapat tersebar ke berbagai penjuru dunia. Informasi mengenai jenis
bencana, informasi mengenai kapan terjadinya bencana, informasi mengenai
lokasi bencana, dampak, dan kebutuhan korban bencana alam dapat terekam
dan tersampaikan melalui pemberitaan. Hal ini menjadi awal fase heroic,
pemberitaan mendorong pihak-pihak yang selama ini bergerak di bidang
kemanusiaan untuk segera bertindak, bahkan dapat menstimulasi
orang-orang yang memiliki empati untuk memberikan bantuan yang
dibutuhkan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat
informasi terkait bencana alam menjadi lebih cepat tersebar. Itulah
salah satu keuntungan dari perkembangan masa terutama teknologi
komunikasi.

Penulis membuat perbandingan dengan masa kecil penulis pada sekitar
tahun 1980an hingga 1990, teknologi komunikasi belum banyak berkembang
atau kalau dikatakan lebih halus tidak seperti masa tahun 2000an.
Informasi yang dapat diterima melalui televisi dan radio yang terbatas.
Namun pada prinsipnya sejak masa lalu hingga masa sekarang ini peran
media dalam pemberitaan bencana alam merupakan unsur penting dalam
layanan kemanusiaan. Selain itu masyarakat yang tidak mengalami bencana
secara langsung juga dapat belajar terkait dengan bencana yang terjadi
dan diberitakan media. Masyarakat mendapatkan pembelajaran dan
pendidikan bencana secara tidak langsung.

Selain itu, para awak media yang bertugas mencari informasi dan membuat
berita terjun secara langsung di lokasi bencana dan memiliki kerentanan
mengalami bencana. Kegiatan meliput berita di lokasi bencana merupakan
pekerjaan berisiko yang harus dilakukan untuk mendapatkan informasi yang
akurat dan objektif. Seperti pengamatan penulis saat melakukan kegiatan
kerelawanan di Erupsi Merapi pada tahun 2010 dan erupsi Gunung Kelud
pada tahun 2014. Tidak sedikit awak media yang dalam melakukan
pemberitaan juga melakukan tindakan kerelawanan dalam fase heroic.
Bahkan beberapa dari awak media juga menjadi korban bencana alam ketika
melakukan liputan seperti kasus meninggalnya beberapa wartawan ketika
meliput berita di kediaman Mbah Maridjan (juru kunci Gunung Merapi)
Erupsi Gunung Merapi tahun 2010.

Satu hal yang menjadi catatan penting, pemberitaan media yang bagaimana
yang dapat memberikan informasi dan pembelajaran bagi masyarakat
terkait bencana? Jawabnya adalah pemberitaan yang berisi informasi yang
akurat dan objektif. Beberapa media memberitakan secara akurat dan
objektif jenis bencana, tingkat kerusakan, besarnya bencana, hingga
kebutuhan yang diperlukan korban bencana alam. Informasi yang akurat dan
objektif ini sangat membantu para relawan, pihak-pihak yang terkait
bencana, atau orang-orang yang hendak menyalurkan bantuan.

Relawan menjadi lebih tahu kondisi di tempat bencana sehingga
mempersiapkan diri dan dapat memutuskan berangkat atau tidak sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki. Apakah terjadi kecocokan antara
karakteristik korban bencana alam dan karakteristik diri, kondisi di
lapangan apakah memungkinkan bagi relawan untuk membantu atau tidak,
karena pada dasarnya relawan juga harus memperhatikan kondisi fisik,
psikologis, dan sosialnya sendiri sebelum membantu orang lain. Pihak
penyalur bantuan juga akan memikirkan tentang bentuk bantuan yang akan
dikumpulkan atau digalang, bagaimanan bentuk penyalurannya, melalui
jalur tertentu, serta bagaimana membawa ke lokasi perlu dipertimbangkan
matang. Semuanya membutuhkan informasi secara akurat dan objektif dari
media.

Bila kita cermati selama ini terdapat beberapa media yang dalam
pemberitaan juga menyertakan mitos-mitos terkait bencana alam di lokasi
terjadinya bencana yang diyakini masyarakat terdampak bencana alam.
Pertanyaannya apakah ini sebagai salah satu pemberitaan yang baik atau
buruk? Selama ini selalu muncul dua versi terkait dengan pemberitaan
terkait dengan mitos. Mitos diketahui sebagai keyakinan masyarakat yang
belum tentu benar dan dapat berdampak negatif terkait perilaku yang
dapat menghambat mitigasi bencana alam. Mitos juga diketahui sebagai
bagian dari budaya yang diturunkan secara turun temurun, dan terdapat
manfaat positifnya dalam melestarikan alam seperti mitos-mitos terkait
adanya penguasa gunung-gunung berapi di Indonesia. Melalui mitos
tersebut diadakan ritual dan larangan untuk merusak alam di sekitar
gunung berapi.

Pemberitaan mitos dalam bencana alam, membuat mitos tersebut menjadi
diketahui banyak orang di luar masyarakat yang pada awalnya meyakininya.
Hal ini dapat melestarikan mitos dan menginsipirasi masyarakat di
daerah lain untuk mencari mitos yang ada di daerahnya terkait dengan
kerawanan bencana alam. Jadi media dalam pemberitaan bencana alam dapat
membuat mitos menjadi makin kuat dan membudaya tidak hanya di masyarakat
terdampak bencana alam namun ke masyarakat lain.

Namun, ada sisi positif pemberitaan mitos terutama dalam fase heroic.
Para relawan yang hendak membantu ataupun berbagai pihak yang nantinya
akan berinteraksi dengan masyarakat terdampak bencana alam akan dapat
mengetahui pemikiran atau keyakinan lokal terkait dengan bencana alam
yang dialami. Tujuannya dengan pengenalan ini menjadi lebih mudah
menjalin relasi dan tidak melakukan kesalahan dalam pemahaman mengenai
bencana alam. Pada fase selanjutnya dengan diketahui mitos yang ada
dapat dilakukan demitosisasi secara perlahan dengan pendekatan ilmiah
dan fakta-fakta terkait bencana alam.

Ditulis oleh Listyo Yuwanto

http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/158/Peran-Media-Dalam-Bencana-Alam.html

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles