
EKUADOR , negara di lintasan katulistiwa di Amerika Selatan tiba-tiba viral diberitakan media akibat terbunuhnya calon presiden Fernando Villavicencio (59) menjelang Pemilu yang akan digelar 20 Agustus.
Villavinceo terbunuh begitu berjalan menuju mobil yang menantinya usai berkampanye di gedung SMA di ibukota Ekuador, Queto, Rabu malam (9/8) waktu setempat.
Surat kabar setempat, Il Universo dalam laporannya menyebutkan, Villavicencio tewas di tempat akibat tembakan dari jarak dekat yang satu diantara peluru menembus kepalanya.
Kepala Polisi Jenderal Manuel Iniguez mengemukakan, pelaku juga melemparkan granat ke tengah kerumunan, namun tidak meledak, sementara enam pelaku berhasil ditangkap, satu tewas, dua polisi dan tujuh peserta kampanye terluka.
Delapan kontestan capres menangguhkan kampanye yang sudah terjadwal karena khawatir atas keselamatan mereka, sementara Presiden Guillermo Lasso mengumumkan tiga hari masa berkabung dan menetapkan 60 hari keadaan darurat.
Pembunuhan terhadap Villavicencio menuai kecaman dari berbagai pihak termasuk dari Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) yang mendesak aparat setempat menjamin keamanan mereka mengingat keamanan kandidat sangat penting untuk menjaga kredibiliatas sistem demokrasi.
Kecaman juga dilontarkan Presiden Ekuador 2007 – 2017 Rafael Correa yang mengasingkan diri ke Belgia melalui akun medsos yang menyebutkan, Ekuador telah menjadi negara gagal dan mendoakan keluarga Villavicencio dan seluruh keluarga korban kekerasan.
Namun pernyataan Correa ditanggapi dingin bahkan memancing kemarahan rakyat Ekuador terutama pendukung Villavicencio mengingat Villavicencio yang berprofesi wartawan melalui liputan investigatifnya membongkar praktek korupsi yang dilakukan Correa saat memimpin negeri itu.
Correa Divonis delapan tahun penjara akibat perbuatannya yang dibongkar oleh Villavicencio, namun ia berhasil kabur dan mengasingkan diri sampai sekarang di Belgia.
Villavicencio dalam pilpres mendatang yang berhasarkan hasil jajak pendapat Cedatos, bakal mengumpulkan 13 persen suara di bawah pesaingnya Luisa Gonzales dengan 26 suara sebelumnya melaporkan ke polisi akibat dua kali menerima ancaman pembunuhan.
Geng-geng dan para kartel narkoba di negara sekitarnya seperti Meksiko dan Kolumbia sering terlibat dalam pembunuhan bernuansa politik di Ekuator. Pada 2023 saja tercatat dilakukan terhadap calon walikota Puerto Lopez, Omar Mnendez Februari lalu dan Wali Kota Manta, Agustin Intriago Juli lalu.
Sementara Presiden Lasso dikritik rakyat karena dianggap tidak cakap menangani persoalan keamanan, bahkan parlemen yang hendak memakzulkannya malah dibubarkan Mei lalu.
Menghabisi calon atau pesaing merupakan jalan pintas untuk meraih kekuasaan atau menghindari persaingan walau pun harus mengesampingkan moral dan hukum.




