Perang Mata-mata di Timur Tengah

Nasib Mata-mata Israel legendaris Ely Cohen yang tragis, berakhir di tiang gantungan dieksekusi pihak Suriah pada 1965.

WALAU konflik terbuka antara pihak-pihak yang bertikai belum pecah, saling intip kekuatan lawan atau perang intelijen dengan serunya terus berlangsung di bawah permukaan.

Kontribusi intelijen terkait keberhasilan atau kegagalan dalam  pertempuran dan perang memang tak terbantahkan, bisa menjungkir-balikkan prediksi perimbangan maialiter di atas kertas.

Taktik atau strategi yang tepat berdasarkan hasil analisis intelijen, bisa membuat lawan yang jauh lebih unggul, lebih besar dan lebih kuat, bisa dikalahkan.

Di palagan Timur Tengah misalnya. Dalam Perang Enam Hari 1967, kubu gabungan Arab dengan kekuatan pasukan utama Mesir, Jordania dan Suriah dipermalukan oleh Israel yang jau lebih kecil dalam jumlah personil mau pun persenjataan.

Israel, mengambil inisiatif menyerang, begitu mendapat info dari intelijennya (Mossad) akan diserang bersama-sama oleh ketiga negara itu.

Akibatnya, dalam waktu enam hari, kubu Arab yang ditulangpunggungi Mesir, Jordania dan Suriah takluk setelah sebagian besar kekuatan udaranya dihancurkan di landasan, begitu pula situs-situs militer vital, radar, sistem komunikasi, konsentrasi pasukan dan pesenjataan utamanya yang nyaris tidak tersisa lagi.

Sebaliknya, pada Perang Yom Kippur, Oktober 1973, intelijen Israel gagal mengantisipasi serangan mendadak Mesir pada hari raya suci umat Yahudi tersebut terhadap posisi mereka di sepanjang terusan Suez.

Pasukan Mesir dengan jembatan-jembatan ponton berhasil menyeberang terusan Suez dan menghancurkan bunker-bunker Israel, walau akhirnya keadaan berbalik setelah tentara Israel  mengambil jalan memutar dan menguasai lagi tumpuan awal pasukan Mesir.

Eli Cohen, Mata-mata Legendaris

Kisah Eli Cohen, mata-mata Israel melegenda, berkat perannya, Dataran Tinggi Golan milik Suriah yang sangat strategis berhasil direbut Israel pada Perang Enam Hari dam sampai hari ini tetap dikangkanginya. Cohen tewas dieksekusi di  tiang gantungan di depan umum di kota Damaskus pada 1965 setelah aksi spionasenya dibongkar pihak Suriah.

Gugurnya Komodor Jos Sudarso bersama KRI Macan Tutul (15 Januari 1962) konon juga akibat bocornya rencana TNI-AL untuk mendrop sukarelawan ke Irian Barat, dihadang oleh kapal perang Belanda di sekitar Laut Aru.

Pada kampanye Dwikora untuk menggagalkan negara Malaysia yang dianggap boneka Inggeris oleh Presiden Soekarno , penerjunan satuan PGT (kini Paskhas) dan gerilyawan Kalimantan Utara di rimba Kalimantan Utara (1964) kabarnya berhasil diketahui pihak Inggeris sehingga sebagian ditawan.

Isu teranyar kegiatan mata-mata di Timur Tengah terkait  tertangkapnya intel Iran terdiri dari empat pria dan satu perempuan warga Yahudi keturunan Iran oleh intelijen dalam negeri Israel Shabak (Sin Bet) yang terungkap pada 12 Januari lalu.

Mereka berlima, seperti diberitakan harian berbahasa Arab Asharq al- Awsat yang terbit di London  dilaporkan ditugasi mengumpulkan informasi tentang instalasi militer Israel, kedubes AS di Jerusalem serta rumah kediaman panglima AB Israel.

PM Israel Naftali Bennet berkaitan dengan sindikat mata-mata tersebut mengingatkan rakyatnya agar waspada atas upaya untuk merekrut warganya oleh pihak Iran.

Mata-mata atau intelijen, sering menjadi penentu jalannya perang dan sampai hari ini dibutuhkan, walau teknologi terus berkembang dengan alat-alat canggih satelit, drone, radar dan lainnya yang bisa mengendus gerakan musuh dari kejauhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement