Perekat Bangsa, Buya Syafii Telah Tiada

Buya Moh. Syafii Maarif (87), ulama Islam yang bersahaja, jujur dan toleran serta pembela NKRI melawan kelompok pengusung perbedaan identitas, wafat, Jumat 27 Mei, 2022 dan dimakamkan di TPU Husmul Khatimah, Kulon Progo, Yogyakarta di hari yang sama.

SEGENAP elemen bangsa yang mendambakan keutuhan NKRI, kerukunan dan toleransi di tengah pluralitas ke-Indonesiaan dari ragam etnis, budaya, agama dan bahasa, wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif, Jumat pagi (27/5) sebuah kehilangan besar.

Buya Syafii (lahir di Sumpur Kudus, Kab. Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935 dan wafat di Yogyakarta, 27 Mei 2022), memilih jalan sunyi di tengah godaan hedonisme, harta dan tahta (kekuasaan) yang dikejar banyak cendekiawan dan politisi di negeri ini.

Bangsa ini kehilangan sumber mata air, sebagai guru bangsa, garda terdepan demokrasi, penjaga moral dan sebagai tokoh dan ulama Islam yang pernah memimpin Muhammadiyah,  menjadi pengayom tak hanya bagi Islam secara inklusif tetapi juga pemeluk agama dan kepercayaan lain.

Buya Syafii juga trenyuh menyaksikan ideologi negara, Pancasila yang telah berhasil menyatukan bangsa Indonesia dalam kerangka NKRI, faktanya acap kali hanya terpampang di etalase atau menjadi tameng penguasa.

Sangat bersahaja! Kesan itu mungkin muncul di benak publik saat mendengar nama Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (1998 – 2005) yang berpulang, Jumat lalu.

Potret kesederhanaan Buya Syafii, terlihat sedang menanti KA di peron Stasiun Tebet, Jakarta Selatan bersama ponakannya, Asmul Khairi dalam perjalanan mengikuti acara Presiden Jokowi menuju Istana Bogor medio Agustus 2018.

Kesederhanaan Buya Safii, bukan pencitraan, karena terekam dalam keseharian, misalnya membeli sabun cuci di warung tetangga, bersepeda ke tempat seminar atau ngrumpi, makan lesehan bersama warga di pedagang angkringan.

“Biasa – biasa saja,” ujarnya ketika ada wartawan yang memergoki dan menanyakan kebiasaan merakyat itu.Memang suatu yang biasa, walau tidak biasa di negeri ini yang sebagian (oknum) elitenya sedang menikmati euforia hedonisme dan keserakahan.

Padahal, di panggung politik dan praktek ketatanegaraan Indonesia sampai hari ini masih  terbuka peluang bagi para pelakunya menjadi kaya raya, baik dengan cara “injak kaki”, memanfaatkan relasi kuasa, mau pun cara-cara tak terpuji lainnya.

“Tetapi Buya Safii memilih hidup sederhana secara terhormat atau dignity, “ tutur Dubes RI untuk Lebanon Hajriyanto Tohari  dalam bukunya “Orang-orang Muhammadiyah yang bersahaja (Kompas 28/5).

Islam Moderat

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra menilai, dalam konteks kebangsaan dan keindonesiaan, Buya Safii sangat menekankan sikap keagamaan moderat, rukun, toleran dan saling pengertian antarumat.

“Dengan gayanya yang lugas dan tutur kata yang khas, Buya mengritik  wacana, praxis atau aktivitas orang-orang yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak sesuai jati diri Islam sebagai agama yang “Rahmatan Lil’Alamin) atau penuh kedamaian.

Sedangkan Pendiri Center for Strategic and Int’l Studies (CSIS) Harry Tjan Silalahi mengakui, di tengah sejumlah persoalan besar yang dihadapi Indonesia ke depannya, dibutuhkan figur seperti  Buya Syafii.

Namun faktanya, menurut Harry Tjan, sosok seperti Buya Syafii makin sedikit, dan lama-lama bisa habis, sehingga kepergiannya menjadi duka amat mendalam bagi bangsa dan negara.

Di tengah masih adanya upaya sebagian elite untuk menjual politik identitas (khususnya agama) sebagai “jualan” kampanyenya, absennya tokoh-tokoh semacam sosok Buya Syafii, Nurcholis Majid atau Gus Dur sungguh didambakan.

Untuk itu, segenap elemen bangsa, terutama elitenya, harus bertanggung jawab mendorong munculnya politisi dan pemimpin baru yang berjiwa NKRI, toleran, bersahaja dan tidak korup serta  memiliki nyali melawan kelompok yang mengusung isu perbedaan identitas.

Rakyat, sampai di kalangan lapis terbawah juga harus melek politik, tidak mudah diprovokasi oleh tokoh yang mengangkat isu perbedaan identitas dan harus tidak mudah diiming-imingi sesuatu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement