
KONFIGURASI koalisi antarparpol menyongsong Pemilu 2024 langsung berubah setelah PDI-P mengumumkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai calon presidennya.
PDIP sendiri yang merasa sangat “PD” karena satu-satunya parpol yang bisa mencalonkan sendiri capres atau cawapresnya karena di ambang batas threshold (persyaratan minimal 20 persen perolehan suara dan 25 persen kursi di DPR pada Pemilu 2019) agaknya tak ingin buru-buru menetapkan calonnya.
Selain persoalan internal, sebagian mendukung Ganjar dan sebagian di belakang Puan Maharani, sementara Ketum PDIP Megawati belum menentukan pilihannya, PDIP memang dalam posisi menguntungkan, dengan membiarkan parpol kontestan lainnya bermanuver.
Sebaliknya jauh-jauh hari, Partai Nasdem bersama PAN, Partai Demokrat dan PKS yang tergabung dalam Koalisi Perubahan (KP) mengusung mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai capresnya.
Mungkin, sukses Anies memenangkan pilgub DKI Jakarta 2017 yang diwarnai politik identitas dan isu agama dianggap oleh elite KP bisa diulang kembali untuk memenangkan pilpres 2024.
Yang tidak kunjung diumumkan oleh KP sampai hari ini adalah cawapres yang diserahkan sepenuhnya pada Anies untuk menentukan walau tentunya akan diperebutkan oleh kader Partai Demokrat dan PKS.
Sebaliknya dua koalisi parpol lainnya yakni Koalisi Indonesia Baru (KIB) yakni Partai Golkar, PAN dan PPP dan Koalisi Indonesia Raya (KIR) terdiri dari Partai Gerindra dan PKB mulai goyah akibat penetapan Ganjar sebagai capres PDIP.
Atas endorsemen Presiden Jokowi, KIB dan KIR sebelumnya juga sudah mewacanakan pembentukan koalisi besar (Partai Golkar, Partai Gerindra, PKB, PAN dan PPP).
Bagi parpol di KIB dan KIR, pilihannya cuma antara bergabung dan ikut mendukung calon PDIP atau tetap dengan koalisi semula, namun semua juga tergantung masing-masing untuk tetap bertahan dalam koalisi atau “loncat” ke koalisi lainnya.
Yang jelas, PPP yang merupakan salah satu anggota KIB juga terang-terangan “menyeberang” dan ikut PDIP mencalonkan Ganjar. Sampai berita ini diturunkan, belum diketahui posisi PAN, apakah juga akan ikut menyusul mencalonkan Ganjar.
Selain tiga nama capres yang elektabilitasnya di berbagai polling teratas yakni Ganjar, Prabowo dan Anies, nama-nama cawapres seperti Gubernur Jatim Kofifah Indar Parawansa, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Menkopolhukan Mahfud MD dan Menteri BUMN Erick Thohir juga masih dalam radar yang dilirik parpol atau koalisi parpol.
Prabowo sendiri digadang-gadang sebagai cawapres pendamping Ganjar, walau sejauh ini ia belum bisa menerimanya, mengingat partainya sudah mencalonkannya sebagai capres.
“Partai saya sudah mencalonkan saya sebagai capres,” kata Prabowo yang sudah gagal dua kali sebagai capres dalam pilpres sebelumnya.
Di kalangan akar rumput, Mahfud MD yang namanya moncer karena komitmennya dalam pemberantasan korupsi (menguak kasus mega korupsi pejabat pajak Rafael Alun dan pembunuhan Brig. Josua oleh Irjenpol Sambo) dinilai sosok paling pantas mendampingi Ganjar.
Siapa pun capres dan cawapres serta calon legislatif dalam Pemilu Serentak 2024 nanti, diperlukan sosok setara malaikat untuk membersihkan pemerintah dari praktek korupsi yang sudah merasuki segenap sendi kehidupan di negeri ini.
Khusus untuk caleg, jika masih ada permainan money politics dalam tahap perekrutan, jangan harap, jika mereka terpilih nanti akan mengemban aspirasi rakyat yang diwakilinya.
Ayo, rakyat, pilih calon dengan hati dan fikiran cerdas, jangan pilih yang cuma pandai berkata-kata atau beretorika, tapi tidak bisa kerja, apalagi tidak bisa dipercaya.




