Perhatian dan Konseling Diperlukan bagi Korban Depresi

Seorang ibu berusaha bunuh diri bersama bayinya dengan menabrakkan diri ke rangkaian KA (4/9) Untung berhasil dicegah oleh dua anggota sekuriti KAI komuter ST. Pasar Minggu.

KASUS seorang ibu hendak bunuh diri sambil menggendong bayinya di Stasiun KA Pasar Minggu, Jakarta Selatan Senin lalu (4/9)  membuktikan perlunya empati, perhatian dan konseling untuk membesarkan hati dan membantu solusi orang yang sedang mengalami depresi atau bermasalah.

Manajer Humas, Hubungan Eksternal dan Corporate Image Care KAI Commuter Leza Arlan mengemukakan, dari hasil keterangan si ibu tersebut, ia mengalami depresi karena masalah keluarga sehingga berniat bunuh diri dengan menabrakkan diri bersama bayinya ke kereta api yang tiba.

Semula tampak, ibu tersebut bersama sang suaminya akan melakukan perjalanan dengan komuter dan saat kejadian suaminya sedang  membeli air minum.

Beruntung, nasib si ibu dan bayinya terselamatkan, karena begitu ada gelagat ingin meloncat ke rel saat kereta mendekat di jalur 2, seorang petugas sekuriti langsung mendekapnya dan mengambil alih bayinya, sedangkan petugas yang lain berusaha membujuk dan menenangkannya.

Sejumlah penumpang yang berempati juga berusaha menenangkan sang ibu dan setelah agak tenang ibu tersebut meminta maaf pada para penumpang dan petugas KAI yang merubunginya.

Menurut ahli kejiwaan, si ibu tersebut mengalami depresi pasca melahirkan atau dijulki fenomena baby blues yakni merasakan ketidaknyamanan, baik fisik, apalagi jika dibarengi dengan persoalan keluarga.

Baby blues adalah bentuk gangguan kejiwaan pada ibu pasca melahirkan ditandai perubahan suasana kebathinan secara cepat terkadang ekstrim yang berlangsung antara dua pekan sampai tiga bulan setelah persalinan atau bisa juga berkepanjangan (postpartum depression).

Ragam Kesulitan

Bisa jadi setelah memiliki bayi, si ibu harus berhenti bekerja, terkuncil dari pergaulan sesama pekerja di kantor, bertambah lagi jika hal itu mengakibatkan kesulitan ekonomi, sementara sang suami penghasilannya pas-pasan, kurang memperhatikan isteri dan bayinya, tambah lagi jika serig melakukan KDRT.

Kesendirian dalam belitan kesulitan, tanpa empati atau perhatian orang dekat atau sekelilingnya membuat orang putus asa dan mencari jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.

Untuk itu pengertian pasangan (suami) sangat dibutuhkan, begitu pula kerabat dan keluarga serta lingkungan ketetanggaan, namun tentu saja dituntut peran pemerintah untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan dan membantu mencarikan solusi.

Mungkin di setiap layanan pertama kesehatan (Puskesmas) disediakan dokter kejiwaan yang memberikan konseling pada ibu-ibu pasca persalinan, juga sangat diharapkan bansos bagi mereka, mengingat sebagian juga mengalami kesulitan ekonomi, misalnya tidak mampu merawat atau membelikan susu bagi bayinya.

Rumah singgah atau rawat inap bagi ibu-ibu pasca persalinan juga perlu difikirkan, karena bisa jadi kondisi rumah tinggal mereka tidak layak,bagi ibu dan bayinya karena berbagai hal.

Layanan kesehatan dan juga kesejahteraan bagi ibu-ibu pasca persalinan tentu “masih jauh panggang dari pada api” untuk sampai  tahap memenuhi kebutuhan mereka, tapi paling tidak harus terus ditingkatkan.

Perhatian dan penghargaan bagi ibu-ibu yang sudah mengandung bayinya selama sembilan bulan, lalu merawat dan membesarkannya perlu diberikan melalui berbagai skim bantuan rutin dan berjangka panjang agar mereka tidak menanggung beban sendirian dan merasa dikuncilkan.

 

 

 

 

 

 

Advertisement