YOGYAKARTA – Puluhan pemuda-pemudi dari 12 negara yang berkumpul dalam Youth For Peace Conference 2018 diberikan kesempatan untuk merancang sebuah proyek.
Proyek-proyek kemanusiaan yang mereka buat nantinya akan dikolaborasikan dengan beragam program kemanusiaan di Dompet Dhuafa.
Dalam membekali peserta membuat project, para narasumber menyajikan materi-materi dan sharing pengalaman terbaiknya. Salah satunya adalah Intan Irani, yang membagikan tips dan trik campaign dengan memanfaatkan sosial media.
“Untuk menciptakan campaign yang menggugah di sosial media khususnya Instagram, tentu yang paling utama adalah visual atau image yang akan kita sajikan. Visual tersebut harus jelas dan nyata secara fotografis maupun pesan. Jadi bukan gambar yang blur atau tidak nyata. Dengan kualitas visual yang baik, dikolaborasikan dengan pesan dan narasi yang kuat, tentu akan mudah menggerakkan orang ikut dalam campaign kita,” jelas Intan.
Kemudian di lain sesi, Pdt. Jonathan Victor Rembeth, selaku Board of Advisory Humanitarian Forum Indonesia, menguatkan motivasi para peserta dalam menjalankan misi atau proyek kemanusiaan. Mengingat banyak peserta yang menanyakan tantangan-tantangan dalam menjalankan proyek tersebut.
“Memang, dalam menjalankan misi kemanusiaan, kita tak boleh memandang dia suku apa, agamanya apa, dan dari bangsa mana? Kita harus murni, menolong, membantu dalam kemanusiaan tersebut. Saat banyak tantangan menghadang, perkuat lagi misi kita, terus coba dan coba lagi untuk menaklukkan tantangan tersebut, hingga akhirnya meraih hasil terbaik sebagai agen perdamaian dalam misi kemanusiaan,” ungkap Pdt. Victor.
Diketahui puluhan pemuda-pemudi dari 12 negara berkumpul untuk menjadi agen perdamaian, dalam Youth For Peace Conference 2018 yang bertemakan “Hand in Hand To Have Peace In The Land” dan digelar di Sambi Resort, Sleman, Yogyakarta, pada 30 November hiingga 4 Desember 2018.





