Poros Iran melawan Israel

Di tengah embargo Barat sejak awal 1980-an, Iran terus mengembangkan rudal-rudal balistik yang diklaim mampu menjangkau Tel Aviv, ibu kota Israel. Iran bersumpah akan menyerang Israel untuk membalas kematian tokoh Hamas, Ismail Haniyeh yang tewas di Teheran akibat seangan udara Israel 31 Juli lalu.

IRAN bersama milisi Hamas, Hezbollah dan Houthi di satu kubu berhadapan dengan Israel membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah  terus bereskalasi sejak perang bekecamuk di Gaza, Palestina, 7 Okt. 2023 sampai hari ini .

Dari sisi militer, Iran menjadi momok Israel,setelah negara Arab lainnya menghadapi persoalan internal masing-masing, bahkan sebagian sudah menjalin lagi hubungan diplomatik dengan negara Yahudi itu.

Mesir lebih dulu berdamai dengan Israel melalui kesepakatan Kamp David yang diprakasai Amerika Serikat pada 1978 setelah kalah dalam tiga kali perang besar (1948, Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973).

Suriah,  kekuatan militer di Timur Tengah lainnya yang bahu membahu dengan Mesir dalam perang-perang sebelumnya terpuruk dalam konflik internal berkepanjangan sejak 2011 sepeninggal Presiden Hafez al-Assad (1971 – 2000).

Irak nyaris “tak bergigi” lagi sejak dilumpuhkan oleh kekuatan pasukan koalisi pimpinan AS pada Perang Teluk II 1990 dan Perang Teluk III (2003- 2011) berujung kematian diktator Sadam Husein di tiang gantungan, 31 Des. 2006. Irak dan Iran juga mengalami perang besar Pada Perang Teluk I (1980 -1986)

Yordania yang kehilangan hampir seluruh kekuatan militernya melawan Israel dalam Perang Enam Hari 1967 juga memilih damai melalui Perjanjian Oslo pada 1993.

Front Arab melawan Israel kian melemah setelah satu persatu anggotanya seperti Bahrain, Uni Emirat Arab dan Maroko menandatangani kesepakatan Abraham yang juga diprakasai AS pada Agustus 2020 disusul Sudan pada 2023.

Qatar diam-diam juga sudah menjalin hubungan dagang dengan Israel sejak 1996, sementara Arab Saudi diam-diam di belakang juga membuat sejumlah ksepakatan dengan Israel.

Melihat konstelasi politik saat ini, mau tidak mau, Iran didukung Houthi, yang berbasis di Yaman, Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Gaza  menjadi garda terdepan front melawan Israel.

 Kembangkan rudal

Iran, walau dikenakan sanksi embargo oleh pihak Barat terutama AS sejak Revolusi  1979 terus mengembangkan rudal-rudal yang diklaim sebagian mampu menjangkau ibu kota Israel Tel Aviv.

Iran dan Israel, dua raksasa militer di kawasan Tmur Tengah yang selama ini terlibat perang kata-kata dan saling ancam, kini di ambang perang terbuka pasca kematian tokoh Hamas, Ismail Haniyeh, diduga dirudal Israel saat bertamu di Teheran (31/7).

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei yang geram atas ulah Israel bersumpah akan segera mengnsruksikan  militernya menyerang Israel .

“Rezim zionis yang kriminal dan teroris telah membunuh tamu tercinta kita di wilayah kita sehingga menimbulkan duka mendalam. Iran sedang menyiapkan sanksi hukuman berat, “ ujar Khamenei dalam pernyataan resminya.

Khamenei menambahkan: “Setelah peristiwa tragis dan pahit yang terjadi di wilayah Iran, kini tugas kami untuk membalas dendam, “ serunya.

Kegeraman Khamenei sangat beralasan, karena selain kehilangan mitranya, tokoh politik Hamas itu, Iran juga dipermalukan Israel karena tidak mampu melindungi tamunya dan juga menunjukkan begitu rapuhnya sistem pertahanan udara dari ancaman Israel.

Perimbangan militer

Global Firepower 2024 mencatat, anggaran militer Israel bertengger pada posisi ke-19 sebesar 24,4 miliar dollar AS (setara Rp385 triliun), sedangkan Iran pada urutan ke- 33  sebesar 9,95 miliar dollar AS (sekitar Rp156,7 triliun).

Dikepung dan berseteru dengan negara-negara Arab sejak merdeka 1948, tetara Israel (IDF) terus diperkuat, dan didukung teknologi dan juga negara-negara Barat terutama AS, Israel bahkan juga masuk dalam deretan kekuatan nuklir dunia.

Sebaliknya, Iran walau diembargo oleh AS dan Barat sejak Revolusi 1979,  terus berupaya dan didukung Rusia, China atau Korea Utara, mengembangkan rudal-rudal balistik yang sebagian diklaim bisa menjangkau Tel Aviv.

IDF berkekuatan 170.000 personil tetap dan 465.000 cadangan. AD-nya didukung 1.370 tank termasuk 500-an unit buatan lokal Merkava dan 6.135 kendaraan lapis baja, sekitar 1.000 pucuk artileri medan dan 650 meriam swagerak serta 48 satuan roket atau rudal.

AU Israel didukung 612 pesawat, a.l 246 pesawat tempur buatan AS (termasuk 75 unit F-35 Super Lightning, 52 unit F-15 Eagle dan 23 unit F-15 Strike Eagle, 141 unit F-16 Fighting Falcon dan 146 heli serang termasuk 50 unit UH-60 Black Hawk dan AH-64 Apache (semua eks AS).

Sedangkan kekuatan matra laut Israel didukung 67 unit kapal perang termasuk tujuh jenis korvet, dua kapal cepat rudal dan masing-masing lima kapal patroli dan kapal selam.

Untuk menghadapi kemungkinan serangan rudal taktis dari musuh-musuhnya, Israel menyiapkan sistem pertahanan terintegrasi Iron Dome (Kubah Besi), David Slings, sistem rudal Arrow dan rudal anti rudal Patriot buatan AS.

Sedangkan AB Iran didukung 610.000 personil tetap dan 350.000 personil cadangan tremasuk satuan Garda Revolusi (IRGC).

AD Iran mengoperasikan 2.000-an tank, sebagian besar peninggalan Uni Soviet seperti T-62 dan T-72 serta 800-an unit  Karrar buatan lokal, 4.873 pucuk artileri medan dan 1.030 artileri swagerak dan   1.775 satuan rudal dan roket. Matra laut Iran didukung 101 kapal perang termasuk tujuh fregat, tiga korvet dan 19 kapal selam kelas kilo warisan Uni Soviet.

AU-Iran didukung 575 aneka pesawat termasuk 215 pesawat tempur lawas eks-AS seperti 63 unit F-4 Phantom, 41 unit F14 Tomcat 19 unit serta MiG-29 dan  23 unit Sukhoi SU-24 (eks- Soviet), 17 unit Chengdu J-7 (China) dan Mirage F-1 (Perancis).

Namun selama diembargo oleh Barat sejak awal 1980-an, Iran terus mengembangkan rudal-rudal taktis seperti Shahab-1, Shahab-2 dan Shahab-3, Feteh, Fajr, Ghadir dan Samid yang sebagian diklaim mampu menjangkau seluruh wilayah Israel.

Bersumpah serang Israel

Pemimpin tertinggi Israel Ali Khamenei bersumpah akan menyerang Israel sebagai balasan atas serangan mematikan terhadap petinggi Hamas Ismail Haniyeh di Teheran(31/7) lalu.

Kejadian itu sendiri, menurut New York Times,  membuat pejabat tinggi militer Iran shock karena merasa kecolongan dan membuat pamor negara itu sebagai kekuatan penyeimbang melawan Israel anjlok.

Tidak hanya kali ini saja Iran kecolongan oleh Israel.  Serangan udara  Israel terhadap kantor konsulatnya di Damaskus, Suriah awal April lalu menewaskan sebelas  penasehat militernya termasuk tiga perwira tinggi, salah satunya Brigjen Moh. Reza Zahedi, pejabat paling senior satuan elite Al-Quds, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Israel sebelumnya juga membunuh pimpinan AL-Quds lainnya, Jenderal Qassem Suleimani di Bahgdad, Irak pada   Januari 2020.

Jika perang terbuka dengan Israel pecah, Iran didukung oleh milisi Houthi berbasis di Yaman yang diklaim berkekuatan puluhan ribu personil dan memiliki rudal-rudal balistik Scud eks Uni Soviet. Masih ada lagi milisi Hezbollah di Lebanon yang jauh lebih kuat dari Hamas atau Houthi dengan sekitar 100.000 personil.

Menurut catatan, Hezbollah memiliki sejumlah roket berjarak antara 30 Km sampai 250 Km buatan Iran seperti Falaq, Khaibar, Fajr, Toophan dan Fateh 110) serta Scud eks-Uni Soviet, rudal-rudal anti tank Konkurs, Kornet, Malyutka (eks Soviet) dan rudal-rudal anti kapal seperti C-701 dan C-802 (eks China) dan Yakhont (Rusia).

Selain itu, Hezbollah juga mengoperasikan puluhan tank tempur utama (MBT) eks-Soviet seperti T-55, T-62, T-72 dan T-90 dan dron-drone Iran seperti Mohazer, Ababil, Yasir dan Hudhud.

Yang dicemaskan, perang terbuka antara kubu Iran melawan Israel bisa menyeret banyak negara lainnya, beum lagi potensi ancaman penggunaan senjata nuklir jika Israel terdesak.

Perang, menurut pengalaman sejarah, tidak menyelesaikan persoalan, apalagi jika sampai menggunakan nuklir. Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu! (Berbagai sumber/ns).

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here