
PRESIDEN Iran Ebrahim Raisi dipastikan meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter setelah melakukan peresmian bendungan di wilayah pegunungan dan kawasan hutan Dizmar, dekat perbatasan Azerbaijan timur, Â Minggu (19/5).
Kantor berita IRNA melaporkan, pemerintah Iran telah menggelar pertemuan darurat, Senin pagi (20/5) Â menyusul kabar ditemukannya puing-puing helikopter dan jasad Presiden Raisi, awak heli dan penumpang lainnya.
Seluruh penumpang a.l Menlu  Hossein Amirabdollahian dan beberapa pejabat tinggi Iran serta awak helikopter dilaporkan tewas dalam kecelakaan di barat laut Iran itu.
Wapres Mohammad Mokhber yang memimpin pertemuan darurat kabinet Iran tersebut pada Senin pagi tidak merinci lebih lanjut apa yang dibahas dalam pertemuan darurat tersebut.
Berdasarkan pasal 131 Konstitusi Republik Islam Iran, apabila presiden meninggal dunia saat menjabat, dengan konfirmasi dari Pemimpin Tertinggi Iran, wapres pertama akan mengambil alih tugasnya.
Dewan  terdiri dari wapres pertama, ketua parlemen dan kepala yudikatif dijadwalkan akan menggelar pemilu untuk memilih  presiden baru paling lama 50 hari setelah presiden wafat. Raisi terpilih pada 2021 dan berdasarkan jadwal, pilpres akan digelar pada 2025.
Sementara AFP melaporkan, dalam sebuah pernyataan, Kabinet Iran menegaskan, pemerintah akan terus beroperasi tanpa gangguan sedikit pun setelah kematian Raisi dalam kecelakaan helikopter.
“Kami meyakinkan segenap elemen bangsa yang setia bahwa pelayanan dan semangat tak kenal lelah yang diwariskan Ayatollah Raisi akan terus berlanjut tanpa gangguan sedikit pun,” jelasnya.
Tidak terlibat
Sementara media Israel Ynetnews dalam laporannya menulis, para pejabat menahan diri untuk tidak mengomentari insiden itu, namun sumber-sumber resmi mengklarifikasi, Israel tidak terkait atau terlibat kecelakaan tersebut.
Pejabat senior Israel juga memprediksi, kematian Raisi dan Amir-Abdollahian tidak akan berdampak pada kebijakan terhadap Iran  dan mereka agaknya berusaha mengantisipasi jika pihak Iran mencoba menyebarkan teori konspirasi tentang keterlibatan Israel alam kecelakaan itu.
Menurut Ynetnews, Cyber ​​​​Army of the Revolutionary Guards,situs web yang berafiliasi dengan AB Iran, jatuhnya helikopter yang membawa pejabat tinggi memicu spekulasi menguatnya konspirasi pembunuhan dan sabotase. Apalagi, dari tiga heli yang terbang beriringan, hanya yang dinaiki Presiden Raisi yang kecelakaan.
Yang dinanti, pihak kawan dan lawan Iran kini adalah siapa presiden yang akan menggantikan Raisi, salah satu kemungkinan, kembalinya presiden ke -6 (2005 – 20013) Mahmoud Ahmadinejad yang dianggap sebagai musuh bebuyutan Israel.
Para pejabat senior Iran juga meyakini, selain tidak ada perubahan di Iran, tidak ada dampaknya pula terhadap Israel, karena keputusan mengenai Israel dibuat oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
AS Rapat darurat
Berita tentang jatuhnya helikpteryang membawa Presiden Iran tersebut sampai ke Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Jake Sullivan yang saat ini berada di Israel.
Presiden AS Joe Biden dilaporkan mempersingkat liburannya karena laporan yang muncul dari Iran dan terus mengikuti perkembangan  seperti halnya para pejabat AS lainnya.
Masih belum ada reaksi dari AS terhadap jatuhnya helikopter itu.Mereka agaknya juga ingin menahan diri dalam berspekulasi mengenai nasib Presiden Raisi.
Namun tuduhan, Israel berada di belakang jatuhnya helikopter presiden Iran mengemuka karena hubungan kedua negara belakangan ini semakin memanas.
Iran, April lalu menghujani wilayah Israel selatan dengan 300-an rudal jelajah walau 99 persen berhasil dicegat sistem pertahanan udara negara Yahudi itu yang lalu melakukan serangan balasan kecil-kecilan karena ditekan AS untuk menahan diri agar tidak membuat Timur Tengah membara.
Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai spesifikasi  helikopter nahas yang ditumpangi oleh Raisi. Situs Tejarat News, Senin (20/5)  menduga helikopter nahas itu dari jenis Bell 412 buatan AS yang diproduksi sejak 1979 dan digunakan 70-an negara termasuk Indonesia..
Tejarat News menulis, embargo yang dikenakan AS sejak Revolusi Iran pada 1979, membuat negara itu mengalami kesulitan suku cadang peralatan militer Barat terutama matra udaranya.
Tercatat belasan varian Bell 412 selain pengangkut personil, pengintai, evakuasi medis dan jenis yang lebih tua (Bell 212) dalam Perang Vietnam (1957 – 1975) digunakan sebagai dukungan tembakan dengan dilengkapi senapan mesin berat dalam Perang Vietnam.
Sementara itu, Arab Saudi, yang secara tradisional adalah saingan Iran dalam perebutan hegemoni di kawasan meski baru-baru ini memulihkan hubungan, juga menyatakan keprihatinannya.
Negara kerajaan tersebut menyatakan, pihaknya mendukung Iran dalam keadaan sulit ini namun sejauh ini belum ada reaksi resmi dari Israel.
Iran menyerang Israel sebagai balasan atas serangan Israel terhadap gedung konsulat Iran di Damaskus, Suriah, yang menewaskan dua jenderalnya, April lalu.
Dalam serangan itu Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Israel. Mayoritas ditembak jatuh oleh Israel dan ketegangan kedua negara tampaknya sudah mereda.
Tidak bisa dipastikan apa yang bakal terjadi di Iran dan juga situasi di kawasan Timur Tengah sepeninggal Presiden Raisi. Kawan dan lawan Iran tentu mengamatinya dengan seksama. (berbagai sumber/ns)




