spot_img

Putus Kongsi  Pucuk Pimpinan Ukraina

KEKOMPAKAN dan kebersamaan, apalagi saat menghadapi  krisis, di bawah ancaman atau diserang musuh, sangat diperlukan agar persoalan teratasi, bangsa dan negara keluar sebagai pemenangnya.

Di saat Ukraina harus bertahan dari invasi negara tetangganya, tentara Beruang Merah Rusia sejak 24 Februari 2022, muncul kabar burung, Presiden Volodymyr Zelenskyy putus kongsi dengan pangab negara itu, Jenderal Valery Zaluzhnyi.

Zelenskyy konon gusar atas tulisan panglimanya itu dan menuding balik, stagnasi di medan tempur disebabkan minimnya taktik dan strategi Zaluzhnyi  untuk memanfaatkan bantuan persenjataan  dari Barat guna melancarkan serangan balasan atas Rusia.

Iu perseteruan dua petinggi Ukraina itu, menurut kantor berita AP dan AFP (3/2) membuat Rusia  diuntungkan untuk menekan posisi lawan,  mengingat selama ini Zaluzhnyi  dianggap sebagai tokoh pemersatu bagi para kombatan Ukraina.

Harian New York Times mengungkapkan, isu perpecahan antara Zelenskyy dan Zaluzhnyi menyeruak akhir 2023 akibat pernyataan panglima AB Ukraina  itu yang menyebutkan perang bakal stagnan jika Ukraina tidak mendapatkan persenjataan lebih canggih dari Barat.

Menurut catatan, aliran senjata terutama dari  AS seperti rudal anti tank Javelin, howitzer swagerak M-109 Paladin, rudal anti tank NLAW (buatan Inggeris dan Swedia) serta tank-tank Leopard (Jerman), Leclerc (Perancis) dan Challenger (Inggeris) cukup efektif menahan gerak laju pasukan Rusia.

Invasi Rusia ke Ukraina yang berlangsung hampir dua tahun telah menewaskan sekitar 120-ribu tentara Rusia dan sampai 180-ribu orang terluka, sementara korban di pihak Ukraina 70.000 tewas dan sampai 120-ribu tentaranya terluka.

Sekitar 2.200 tank dan puluhan pesawat tempur Rusia dilumpuhkan,juga kapal penjelajah kebanggaannya, Moskwa yang dirudal Ukraina, sebaliknya tidak diketahui kerugian alutsista yang diderita Ukraina, selain luluh-lantaknya gedung-gedung apartemen,  prasarana dan sarana publik di berbagai kota akibat bombardemen Rusia dan sekitar 106.000 Km2 wilayahnya diduduki.

Sekitar 17,6 juta penduduk Ukraina memerlukan bantuan kemanusiaan mendesak dan 5,9 juta lainnya tersebar, mengungsi di sejumlah negara Eropa  untuk mencari tempat  aman.

Berkat aliran bantuan persenjataan terutama Amerika Serikat yang paling tidak sudah menggelontorkan 43 miliar  dollar AS (sekitar  Rp676 triliun), belum lagi dari sejumlah negara anggota Uni Eopa, Ukraina masih mampu bertahan dari gempuran mesin perang raksasa Rusia.

Sebaliknya, Jubir Rusia Dmitry Peskhov mengklaim, sengketa antara Zelenskyy dan Zaluzhny mencerminkan kegagalan Ukraina melawan pasukan negaranya, sekaligus keberhasilan operasi pasukannya di Ukraina.

Di tengah peperangan, sudah biasa jika musibah yang dialami lawan diklaim sebagai berkah dan kemenangan. (AP/AFP/ns)

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles