Qatar, Diuntungkan Perang Rusia – Ukraina

Dengan produksi 1,8 juta barel minyak mentah per hari dan sampai 110 juta M/T LNG per tahun, Qatar duntungkan akibat Perang Ukraina - Rusia dengan menggantikan ketergantungan impor energi Eropa dan negara-negara lainnya dari Rusia.

PERANG menjadi malapetaka bagi negara yang terlibat, namun bisa jadi, berkah bagi negara lain seperti dialami Qatar yang menggantikan peran Rusia, sebagai eksportir minyak bagi Uni Eropa dan negara-negara lainnya.

Dengan penduduk kurang dari tiga juta jiwa, Qatar yang  dikaruniai berkah melimpah ruah minyak bumi dan gas alam (LNG) menempati posisi amat penting bagi negara-negara di Eropa untuk menggantikan impor energi dari Rusia.

Qatar sendiri sudah lebih dulu berencana meningkatkan 60 persen kapasitas ekspor migasnya pada 2007, sehingga peluang yang muncul akibat perang Rusia vs Ukraina dapat dimanfaatkannya .

Rencana ambisius tersebut sudah dicanangkan sejak 2019 lalu untuk meningkatkan kapasitas produk LNG dari 77 juta ton menjadi 110 juta ton pada 2025 seiring dengan meningkatnya permintaan.

Bersama Australia, negara kecil di Timur Tengah ini adalah pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia dan berpotensi menjadi mitra komersial utama negara-negara UE yang semula bergantung hampir 40 persen kebutuhan gasnya dari Rusia.

Ketergantungan UE terhadap Rusia sebelumnya bukan masalah besar sampai Kremlin memutuskan untuk menyerang Ukraina pada 24 Feb. lalu. UE yang memihak Ukraina sepakat untuk menghentikan impor energi mereka dari Rusia.

Negara-negara di Eropa termasuk anggota UE, memerlukan pasokan minyak dan LNG untuk mengamankan stok jangka panjang mereka guna menggantikan impor energi yang sebelumnya dipasok Rusia.

Jerman Bergantung Migas Rusia

 Jerman yang semula mengandalkan 55 persen pasokan LNG  dari Rusia juga berupaya mencari langkah alternatif yang belum pernah diambil sebelumnya untuk mengurangi ketergantungan serta melawan apa yang dianggap sebagai pemerasan energi oleh pihak Kremlin (penguasa Rusia-red).

Namun Jerman belum bisa memanfaatkan kapal-kapal pengangkut  LNG dari negara lain selain Rusia sehingga harus membangun fasilitas untuk memprosesnya, suatu  rencana yang memakan waktu tiga hingga lima tahun.

Untuk itu Jerman mengambil langkah untuk memanfaatkan terminal LNG  terapung yang mampu menampung produk LNG dari tempat-tempat yang jauh seperti AS dan Qatar. “Kita harus mencoba langkah yang tidak praktis, “ ujar Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck.

Tak hanya Jerman yang telah melakukan pendekatan k Qatar untuk mengamankan impor tambahan, sejumlah negara lain tetangganya juga melakukan hal sama.

Sementara dengan produksi minyak bumi sekitar 1,8 juta barel per hari dan dengan cadangan 25,2 miliar barel, Qatar juga siap menerima limpahan pengalihan impor migas (minyak bumi dan LNG) Eropa dari Rusia.

Perang menjadi musibah bagi negara-negara  yang terlibat, tetapi bisa pula merupakan berkah bagi negara lain.  (AP/AFP/Reuters).

 

 

Advertisement