JAKARTA, KBKNews.id – Membaca bacaan salat tahajud dengan baik dan benar sangat penting untuk menambah kekhusyukan dalam beribadah. Saat kita memahami makna dari bacaan tersebut dan melafalkannya sepenuh hati, kita akan merasakan ketenangan yang mendalam.
Bahkan, seringkali air mata mengalir karena tersentuh oleh suasana spiritual yang hadir. Agar semakin bersemangat menjalankan salat tahajud, mari pahami lebih jauh tentang pengertian, keutamaan, serta tata cara pelaksanaannya.
Secara bahasa, kata “tahajud” berasal dari “hujud” yang berarti tidur. Maka, tahajud bisa diartikan sebagai usaha untuk bangun dan meninggalkan tidur demi melaksanakan ibadah.
Dalam istilah fikih, salat tahajud merupakan salat sunah malam yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu. Para ulama sepakat bahwa salat tahajud termasuk sunah muakkad, yaitu sunah yang sangat dianjurkan karena selalu diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Keutamaan Salat Tahajud
Salat tahajud memiliki banyak keutamaan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Dalam surah Al-Isra ayat 79, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk salat malam agar mendapat tempat yang terpuji.
“Dan dari sebagian malam salat tahajudlah kamu (Muhammad) dengan membaca Al-Qur’an (di dalamnya) sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu menempatkanmu pada tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra: 79)
Allah juga berfirman dalam surah Al-Muzammil ayat 20: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan, Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Muzammil: 20)
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Al-Hakim: “Kalian lakukanlah terus qiyâmyul lail (dengan melakukan shalat Tahajud), karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Qiyâmul lail (dengan melakukan shalat Tahajud) merupakan ibadah kalian kepada Tuhan kalian, melebur berbagai kesalahan dan mencegah dari dosa.” (HR al-Hakim)
Waktu Istimewa untuk Lebih Dekat kepada Allah
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa salat tahajud adalah ibadah istimewa. Pada malam hari, Allah membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya. Ini adalah waktu yang sangat tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya lewat salat dan doa.
Tata Cara dan Niat Salat Tahajud
Salat tahajud dilakukan setelah bangun dari tidur di malam hari. Waktu paling utama adalah pada sepertiga malam terakhir. halat ini dilakukan minimal dua rakaat, dan boleh dilakukan lebih banyak tanpa batas tertentu. Pelaksanaannya sama seperti shalat sunnah lainnya, diawali dengan niat:
Niat Shalat Tahajud
أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
“Ushalli sunnatat tahajjudi rak‘ataini lillahi ta‘ala.”
Artinya: “Aku menyengaja salat sunah Tahajud dua rakaat karena Allah ta’ala.”
Setelah niat, dilanjutkan dengan takbiratul ihram, membaca doa iftitah, surah Al-Fatihah, surah pendek, rukuk, sujud, dan seterusnya hingga salam.
Doa Setelah Salat Tahajud
Setelah mengakhiri salat dengan salam, dianjurkan membaca doa berikut yang sangat dalam maknanya. Doa ini memuji kebesaran Allah, mengakui kebenaran janji-Nya, dan memohon ampun atas segala dosa.
اَللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاءُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهم لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لآ اِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
“Allahumma rabban lakal hamdu. Anta qayyimus samawati wal ardhi wa man fi hinna. Wa lakal hamdu anta malikus samswati wal ardhi wa man fi hinna. Wa lakal hamdu anta nurus samawati wal ardhi wa man fi hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqa’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan naru haqq. Wan nabiyyuna haqq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haqq. Was sa‘atu haqq.
Allahumma laka aslamtu. Wa bika amantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khashamtu. Wa ilaika hakamtu. Fagfirli ma qaddamtu, wa ma akhkhartu, wa ma asrartu, wa ma a‘lantu, wa ma anta a‘lamu bihi minni. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. La ilaha illa anta. Wa la haula, wa la quwwata illa billah.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, Bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad itu benar. Hari Kiamat itu benar.
Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah.”
Waktu Terbaik untuk Shalat Tahajud
Sepertiga malam terbagi menjadi tiga bagian:
- Sepertiga pertama: pukul 21.00–23.00
- Sepertiga kedua: pukul 23.00–01.00
- Sepertiga ketiga: pukul 01.00 hingga waktu Subuh
Waktu terbaik untuk salat tahajud adalah pada sepertiga malam terakhir, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa pada waktu tersebut Allah SWT turun ke langit dunia dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya.
“Setiap malam Allah SWT turun ke langit dunia sampai tersisa sepertiga malam yang terakhir. Ia (Allah) pun berkata, ‘Adakah hamba-Ku yang meminta sehingga pasti Aku berikan apa yang dia minta? Adakah hamba-Ku yang berdoa hingga pasti Aku kabulkan doanya? Adakah hamba-Ku yang ber-istighfar sehingga Aku ampuni dosanya?’.”
Mengiringi Tahajud dengan Sedekah Subuh
Sepertiga malam terakhir penuh berkah. Setelah melaksanakan salat tahajud, sangat dianjurkan untuk melanjutkannya dengan sedekah subuh. Ini bisa menjadi pintu rahmat dan rida Allah di dunia maupun akhirat. Sedekah subuh bisa dilakukan secara langsung atau online, misalnya melalui platform Dompet Dhuafa.





