Ramadhan Jangan Gagal Fokus dengan Perdebatan Definisi “Mudik dan Pulang Kampung”

Ilustrasi mudik/ Antara

JAKARTA – Sehari menjelang masuknya Bulan Suci Ramadhan, dunia maya diramaikan dengan perbedaan kata mudik dan pulang kampung.

Pembahasan mengenai dua istilah tersebut terjadi setelah Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan dalam sebuah acara talkshow Mata Najwa, di Trans 7, jika mudik dan pulang kampung adalah dua hal yang berbeda.

“Kalau yang namanya pulang kampung itu bekerja di Jakarta, tetapi anak-istrinya ada di  kampung,” kata Jokowi.  Ditambahkannya, memang orang-orang yang sudah curi start pulang sebelum Ramadhan,  bekerja di Jabodetabek, namun sudah tidak ada pekerjaan karena terdampak corona, ya mereka pulang karena anak istrinya ada di kampung.

Sementara menurutnya, mudik dilakukan menjelang Hari Raya Lebaran Idul Fitri.

Jokowi juga beranggapan, mereka yang mencuri start untuk pulang kampung justru berada dalam kondisi berbahaya jika tetap tinggal di Ibu Kota.

Ia menambahkan, saat pulang kampung, pemerintah daerah setempat telah menyiapkan tempat isolasi bagi warga yang ingin masuk ke wilayah tersebut. “Coba dilihat juga di lapangan, ini lapangan yang kita lihat. Di Jakarta, mereka menyewa ruang 3×3 atau 3×4, isinya 8 orang atau 9 orang,” katanya.

“Mereka di sini tidak bekerja. Lebih berbahaya mana, di sini, di dalam ruangan dihuni 9, 8 orang, atau pulang ke kampung tapi di sana sudah disiapkan isolasi dulu oleh desa?” ucap Jokowi.

Pernyataan Jokowi ini juga menjawab pertanyaan mengapa larangan mudik mulai diberlakukan tepat di hari pertama bulan suci Ramadhan. Secara awam, tadinya menganggap ya mungkin karena kalau masuk bulan Ramadhan, berarti semakin mendekati lebaran, sehingga larangan tersebut harus benar-benar ddiberlakukan.

Tapi ada benarnya pemikiran sepintas tersebut, jika dikaitakan dengan pernyataan Jokowi yang mengatakan pulang kampung dilakukan oleh orang-orang yang bekerja di Jakarta namun memutuskan kembali ke kampung karena tak ada pekerjaan.

Sementara mudik itu identik dengan lebaran, jadi harus ddiberlakukan saat momen tersebut sudah di depan mata.

Ramai di media sosial, sampai-sampai ada teman dari kampung yang mengirim pesan whatsapp, “Boleh kok pulang kampung, asal jangan mudik.” Mungkin pesan singkat tersebut mengandung rasa rindu karena lebaran tahun ini tidak akan bisa bertemu dengan teman-teman lama yang merantau di luar kota dan biasanya pulang ketika lebaran.

Mengungkap rasa ingin perbedaan kedua istilah tersebut, ramai-ramai juga orang jadi membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI untuk mencari perbedaannya.

Manurut KBBI, pengertian pertama mudik adalah kata kerja untuk (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman). Lalu pengertian kedua untuk mudik adalah kata kerja percakapan (v cak) untuk pulang ke kampung halaman.

KBBI mencontohkan dengan kalimat “Seminggu menjelang lebaran sudah banyak orang yang — (mudik, pulang kampung)”. Sementara itu, berdasarkan KBBI, “Pulang Kampung” adalah kembali ke kampung halaman; mudik. KBBI mencontohkan dengan kalimat “dia — kampung setelah tidak lagi bekerja di kota.” Dalam konteks ini, KBBI mengarahkan jika mudik dan pulang kampung adalah istilah yang sama artinya.

Tapi  ahli bahasaProf. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat dari Universitas Indonesia ternyata berpendapat sama dengan Jokowi.

Wanita yang juga merupakan Guru Besar Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia ini berpendapat mudik dan pulang kampung memang berbeda arti. Bukan sama arti seperti ditulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Memang beda arti mudik dengan pulang kampung. Biasanya pembaca kurang cermat. Di KBBI tertulis v cak. Cak itu berarti percakapan,” ujar Prof Rahayu, sebagaimana dilansir detik.com.

Menurut Prof Rahayu, bahasa percakapan anti kaidah. Sebab arti pulang kampung beda dengan mudik namun kerap dipakai dalam bahasa percakapan. Mudik artinya pergi ke udik atau hulu. Sementara arti pulang kampung yakni kembali ke kampung halaman.

Dalam hal ini, lanjut Prof Rahayu, Presiden Jokowi membatasi penggunaan kata mudik dalam konteks Idul Fitri. Sedangkan pulang kampung tidak berkaitan dengan Idul Fitri.

Intinya, mau memperdebatkan masalah penyebutan mudik atau pulang kampung, kini larangan sudah diberlakukan. Ikhlaskan saja, Ramadhan dan Idul Fitri kali ini mungkin harus beda rasa, tinggal kita meracik dengan bumbu iman dan taqwa yang tidak kalah dari tahun-tahun sebelumnya.

Mungkin yang tahun-tahun biasanya sibuk bekerja dikantor, sekarang ada WFH, bisa lebih banyak tadarus dirumah, yang tahun-tahun lalu sholat tarawih di masjid sekarang bisa berjamaah bersama keluarga dirumah, tahun-tahun lalu terhanyut dalam euforia membeli baju lebaran tahun ini bisa lebih banyak menyisihkan untuk bersedekah, dan satu lagi, mungkin sekali-sekali Allah menakdirkan kita berlebaran bersama tetangga, yang disebut Nabi Muhammad SAW sebagai saudara terdekat kita, Masya Allah.

 

 

 

 

Advertisement