Ramon Magsaysay Award 2016; Pengakuan untuk Semangat Kemanusiaan yang Luhur

Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail A. Said didampingi Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi 2013-2016 Ahmad Juwaini menerima Ramon Magsaysay Award 2016 dari Wakil Presiden Filipina Maria Leonor Robredo di Cultural Centre of Philippine, Manila, Rabu (31/8/2016).

Alunan musik terdengar riang diiringi tepuk tangan.Dengan bergandengan tangan, 20 orang menuruni anak tangga dari belakang kursi tribun. Deretan kursi merah di atas panggung pun seketika terisi. Hanya ada dua kursi yang dibiarkan kosong.

Saat tepuk tangan belum berhenti, bunyi musik berganti menjadi dentuman drum berirama. Seorang wanita yang diapit pria paruh baya disorot lampu menaiki panggung. Wanita itu adalah Wakil Presiden Filipina, Maria Leonor G. Robredo. Kedatangannya menjadi tanda dimulainya hajatan penghargaan bergengsi se- Asia, Ramon Magsaysay Award 2016.

Malam itu, Rabu 31 Agustus 2016 bergitu meriah. Tak kurang dari 1100 hadirin memenuhi kursi auditorium utama Cultural Center of Philippine (CCP) yang terletak di Roxas Boulevard, Magdalena Jalandoni, Malate, Pasay, 1300 Metro Manila, Filipina. Meski, acara yang digelar sangat sederhana, tak ada pertunjukan musik maupun tarian. Hanya pidato dan pemutaran film pendek. Namun, antusiasme penonton sangat tinggi. Mereka berkali-kali memberikan tepuk tangan meriah.

Setelah dibuka dengan lagu kebangsaan “Lupang Hinirang”, film pendek tentang Bunda Teresa diputar selama kurang lebih 7 menit. Film ini dipertontonkan sebagai penghargaan (tribute) atas kontribusinya dalam bidang kemanusiaan dan perdamaian dunia. Bunda Teresa sendiri merupakan penerima penghargaan Ramon Magsaysay pada tahun 1962.

Di awal acara, Ketua Dewan Wali Amanah (Board of Trustees) Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF) Ramon R. Del Rosario menyampaikan, penghargaan ini merupakan bagian dari upaya untuk menghargai dan mengenang semangat luhur mantan Presiden Filipina, Ramon Magsaysay untuk kemanusiaan. “Untuk itu kami telah memilih dan memberikan pengakuan kepada 6 orang/kelompok atas kontribusi mereka, yang tanpa pamrih telah bekerja untuk masyarakat,” ujarnya.

Setelah itu, secara bergantian anggota Dewan Wali Amanah RMAF memaparkan latar belakang para penerima penghargaan. Keenam penerima penghargaan tersebut adalah Dompet Dhuafa (Indonesia), Japan Overseas Cooperation Volunteers (Jepang), Vientiane Rescue (Laos), Bezwada Wilson (India), T.M. Krishna (India), dan Conchita Carpio Morales (Filipina).

Dompet Dhuafa dipilih karena upayanya dalam mentransformasikan lanskap zakat di Indonesia. Sejak pertama kali didirikan, DD secara serius menerapkan prinsipi-prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem dan tata kelola organisasinya. “Dompet Dhuafa telah mampu mengoptimalkan zakat untuk mengangkat derajat jutaan manusia, terlepas dari persoalan keyakinan,” ujar Senen C. Bacani, salah satu anggota Trustee dalam presentasinya di hadapan Wapres Leonor G. Robredo dan seluruh undangan.

Sementara JOCV diakui karena idealisme dan semangatnya pelayanan mereka dalam memajukan kehidupan masyarakat. Kiprah mereka selama lima dekade menunjukkan bagaimana mereka hidup, bekerja, dan berpikir dilakukan atas dasar semagat untuk perdamaian dan solidaritas internasional.

Dari Laos, kiprah heroik Vientiane Rescue mendapat sambutan luar biasa. Didorong oleh semangat kemanusiaan yang murni, para volunteer Vientiane Rescue bekerja selama 20 hingga 168 jam sepekan untuk menolong korban kecelakaan di jalan raya Laos.

“Di tengah kondisi penuh keterbatasan, para volunteer Vientiane Rescue selalu hadir memberikan pertolongan kepada siapa yang membutuhkan. Mereka memberikan inspirasi kepada kita bagaimana gairah kemanusiaan bisa membantu banyak orang,” ujar Toshinao Urabe, anggota Trustee lainnya.

Apa yang dilakukan Bezwada Wilson membuat banyak hadirin terenyuh. Pria yang kini berusia 50 tahun itu telah menghabiskan 32 tahun untuk berjuang demi kelompok sosial terendah di India, Dalit. Kelompok ini mendapat perlakuan diskriminatif dalam mengakses pekerjaan yang layak. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pembersih tinja manual. “Saya sampai meneteskan air mata karena terharu,” ujar Maya setelah acara.

“Kami mengakui energi moral dan keterampilannya dalam memimpin akar rumput dalam memberantas perbudakan di India, juga perjuangannya dalam mengembalikan martabat dan hak asasi kelompok masyarakat Dalit,” demikian paparan Deogracias N Vistan, anggota Trustee lainnya.

Demikian pula terhadap Thodur Madabusi Krishna dan Conchita Carpio Morales yang juga memiliki jasa tak ternilai dalam melayani dan membela hak-hak masyarakat di negaranya. Sama seperti Wilson, T.M. Krishna juga memperjuangkan kesamaan hak melalui seni musik dan budaya. Sementara Conchita yang merupakan ketua Ombudsman Filipina dinilai sebagai pemimpin yang memiliki komitmen tinggi dalam penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi yang selama ini menjadi masalah di Filipina.

Nobel Asia

Ramon Magsaysay Award adalah penghargaan tertinggi di Asia. Tak ayal, ia kerap disebut sebagai Nobel-nya Asia. Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan kepada Presiden Ketiga Filipina setelah Perang Dunia Kedua, Ramon Magsaysay. Oleh karenanya, setiap tahun penghargaan ini diberikan pada tanggal 31 Agustus yang merupakan hari kelahirannya.

Kehidupan Ramon Magsaysay dianggap memiliki pengaruh yang besar, tidak saja bagi negaranya, tapi juga negara-negara lain. Ia merupakan salah satu pemimpin terkemuka di masanya. Ia memerintah dengan penuh kekaguman, rasa hormat dan kasih sayang dari rakyatnya. Itu karena kepribadiannya yang sederhana, rendah hati, dan sangat peduli terhadap masyarakat bawah.

Adanya penghargaan ini bermula dari surat John D. Rockefeller III kepada Presiden Carlos P. Garcia pada 30 April 1957, enam pekan setelah wafatnya Magsaysay dalam kecelakaan pesawat. Dalam suratnya itu, Rockefeller III mengaku sangat dekat dengan Magsaysay. Untuk itu, ia dan keluarganya yang memiliki yayasan Rockefeller Brothers Fund (RBF) menawarkan diri untuk membuat sebuah event penghargaan tahunan demi mengenang mendiang Magsaysay.

“Mereka memberikan otoritas kepada saya untuk mengusulkan pemberian Ramon Magsaysay Award yang diberikan setiap tahun kepada individu maupun kelompok di Asia yang menunjukkan kepemimpinannya karena kepeduliannya terhadap kesejahteraan masyarakat, sebagaimana yang ditunjukkkan dalam karekater kehidupan Ramon Magsaysay….” demikian petikan surat itu.

Surat itu pun mendapat sambutan hangat dari Presiden Calros Garcia yang merupakan pengganti Magsaysay. RBF pun memberikan bantuan dana senilai US$ 500 ribu. Pemerintah, melalui keputusan Kongres, memberikan hibah berupa tanah bagi Ramon Magsaysay Foundation (RMAF) untuk membangun gedung pada tahun 1959. RBF juga kemudian memberikan hibah senilai US$ 1 juta dan pinjaman sebesar US$2 juta untuk pembangunan Ramon Magsaysay Center yang menjadi pusat kegiatan RMAF pada tahun 1968. Pemerintah membebaskan pajak atas tanah dan bangunan ini.

RBF kembali memberikan hibah sebesar US$18.500 untuk memodifikasi dan melengkapi saranan gedung. Dari gedung inilah RMAF mendapat keuntungan untuk operasional dan pemberian penghargaan setiap tahunnya.

Sekedar informasi, selain ditanggung akomodasi dan transportasi, penerima penghargaan juga mendapat hadiah medali dan uang. Nilai uang yang diberikan turun naik, mulai dari US$10 ribu hingga US$ 20 ribu pada tahun 1977, menjadi US$30 ribu pada tahun 1987. Bahkan, pada tahun 1993, nilai hadiah mencapai US$50 ribu. Sejak tahun 2015 lalu, Trustee RMAF memutuskan untuk mengurangi hadiah uang menjadi US$30 ribu.

Pada tahun 2000, Ford Foundation juga memberikan hibah senilai US$ 1,5 juta untuk penambahakan kategori baru dalam penghargaan tersebut, yakni Emergent Leadership.

Penghargaan Ramon Magsaysay diberikan kepada siapa pun yang memiliki kepemimpinan transformatif di Asia. Dalam lima dekade terakhir, penghargaan telah diberikan pada lebih dari 300 orang luar biasa, baik pria, wanita maupun organisasi yang memberikan pelayanan tanpa pamrih kepada masyarakat.

“Mereka (para penerima penghargaan) ini telah menciptakan solusi untuk mengatasi persoalan sosial di masyarakat, persoalan yang menjebak masyarakat dalam kemiskinan, kebodohan, prasangka, dan sistem yang tidak adil. Kita harus banyak belajar dari para peraih penghargaan Magsaysay 2016, dan harus merayakan keluhuran dari spirit mereka,” ujar Presiden RMAF,Carmencita T. Abella, dalam sebuah sambutannya.

 

 

Advertisement