Respon Menlu Iran Soal Ancaman Trump: Zaman Batu Tidak Memiliki Pasokan Minyak

Menlu Iran, Menlu Iran mengingatkan Gedung Putih terkait ambisi memutar balik waktu ke "Zaman Batu" akan berdampak sistemik bagi stabilitas energi global mengingatkan Gedung Putih terkait ambisi memutar balik waktu ke "Zaman Batu" akan berdampak sistemik bagi stabilitas energi global. (Foto: Khaled Elfiqi/AP Photo)

Jakarta, KBKNews.id – Tensi diplomatik antara Teheran dan Washington mencapai titik didih baru. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan sindiran tajam sebagai respons atas ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang bertekad menghancurkan infrastruktur Iran hingga kembali ke kondisi prasejarah.

Dalam pernyataan sarkastis melalui media sosial X pada Jumat (3/4/2026), Araghchi mengingatkan Gedung Putih terkait ambisi untuk memutar balik waktu ke “Zaman Batu” akan berdampak sistemik bagi stabilitas energi global, terutama bagi Amerika Serikat sendiri.

Perang Kata-Kata: Minyak vs Rudal

Sindiran Araghchi ini merujuk pada ketergantungan dunia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Ia menekankan, kehancuran total di wilayah tersebut hanya akan membawa dunia ke masa di mana bahan bakar fosil belum ditemukan.

“Ada satu perbedaan mencolok antara masa kini dan Zaman Batu. Tidak ada minyak atau gas yang dipompa di Timur Tengah saat itu. Apakah Presiden AS dan rakyat Amerika yang memilihnya yakin mereka ingin memutar kembali waktu?” tulis Araghchi dalam unggahannya.

Pernyataan ini merupakan balasan langsung atas pidato keras Trump di Washington pada Rabu (1/4/2026). Saat itu, Trump mengeklaim operasi militer AS di Iran hampir mencapai tujuan akhirnya dan menjanjikan serangan skala besar dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

“Kami akan mengembalikan mereka ke Zaman Batu, tempat di mana mereka seharusnya berada,” ujar Trump dalam pidatonya yang kontroversial.

Eskalasi di Lapangan: Serangan Rudal dan Klaim Militer

Ketegangan tidak hanya berhenti pada retorika. Tak lama setelah ancaman Trump bergaung, Iran langsung meluncurkan rentetan rudal ke arah Israel dan sejumlah negara di kawasan Teluk. Salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah klaim Teheran mengenai serangan terhadap pusat penyimpanan data raksasa teknologi Amazon di Bahrain, meski otoritas Manama telah mengeluarkan bantahan resmi.

Di tengah klaim AS dan Israel yang menyatakan telah melumpuhkan kekuatan militer Iran, pihak Teheran justru menunjukkan kepercayaan diri tinggi. Mereka menegaskan kekuatan tempur mereka masih jauh dari kata habis.

“Iran masih menyimpan persediaan persenjataan dan amunisi dalam jumlah besar di lokasi-lokasi yang tersembunyi dan belum terjamah oleh serangan lawan,” tegas Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, juru bicara militer Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya.

Indonesia Pantau Dampak Perdamaian

Melihat eskalasi yang kian tak terkendali, suara dari dalam negeri Indonesia mulai bermunculan. Pengamat militer Jaleswari menyerukan agar pemerintah mengevaluasi keanggotaan Indonesia di berbagai organisasi internasional terkait keamanan. Ia menekankan sesuai konstitusi, Indonesia memiliki mandat moral untuk aktif menyuarakan perdamaian dunia di tengah ancaman kehancuran total di Timur Tengah.

Kini, mata dunia tertuju pada “tenggat waktu” dua hingga tiga pekan yang dijanjikan Trump. Jika eskalasi militer benar-benar meningkat, kekhawatiran Araghchi soal dunia tanpa minyak di “Zaman Batu” modern bisa menjadi kenyataan pahit bagi ekonomi global.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here