Rezim Assad Diduga Gunakan Senjata Kimia saat Serang Ghouta Timur

JAKARTA – Rezim Bashar Al-Assad baru-baru ini dilaporkan menggunakan senjata kimia terlarang dalam penyerbuan di Ghouta Timur Suriah. Kabar itu datang dari Kementerian Kesehatan Pemerintah Sementara Suriah, lembaga medis dari kubu pejuang oposisi, yang menyebut adanya bau klorin usai terjadinya ledakan besar di distrik al-Shayfouniya pada serangan hari Minggu (25/2).

Akibat adanya serangan mematikan itu, warga setempat banyak yang sesak napas. Seorang anak dilaporkan meninggal dunia akibat kehabisan napas usai serangan tersebut.

“Setidaknya ada 18 korban yang dirawat dengan bantuan oksigen,” ujar pernyataan lembaga oposisi, seperti dikutip Reuters (27/2).

Dalam video yang tersebar di media sosial, terlihat anak-anak bertelanjang dada, megap-megap kesulitan bernapas sambil dipakaikan oksigen. Pemandangan ini mengulang kembali mimpi buruk 2013 di Ghouta yang dihantam serangan kimia. Ketika itu, 1.500 orang tewas, kebanyakan anak-anak.

Akibat adanya serangan itu, sebagian besar warga dan anak-anak terpaksa berlindung di bungker bawah tanah. Kondisi mereka apa adanya, tanpa listrik dan minim makanan.

“Ini malapetaka, anak-anak tidak makan selama dua hari berturut-turut. Dewan kota tidak bisa menyediakan makanan bagi anak-anak. Orang dewasa mungkin bisa bertahan, tapi anak-anak tidak bisa,” kata seorang warga.

Lembaga pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, mengonfirmasi adanya anak yang tewas dalam serangan di Ghouta pada Minggu. Namun Observatory belum bisa memastikan senjata kimia yang digunakan.

Advertisement