RI Penyumbang Sampah Plastik Utama Dunia

PENCAPAIAN yang ini tentunya tidak membanggakan. Indonesia bersama empat negara di Asia lainnya yakni China, Filipina, Thailand dan Vietnam berkontribusi menyumbang separuh dari sekitar delapan juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut setiap tahun.

Laporan Ocean Conservacy 2015 itu juga menyebutkan, dampak keberadaan sampah plastik tersebut sangat membahayakan bagi kehidupan biota laut karena lebih 700 spesies telah tercemari sampah plastik dan bahkan sebagian menyebabkan kematian.

Sebagai contoh, baru-baru ini di dalam rongga perut seekor ikan paus yang dalam keadaan sekarat di pesisir Songkhla, Thailand baru-baru ini, ditemukan 80 kantong plastik dan delapan Kg sampah lainnya yang juga terbuat dari plastik.

Penyu yang bersarang sepanjang tahun di P. Christmast, Samudera Hinida, juga terganggu habitatnya oleh sampah-sampah plastik yang dimakan oleh hewan laut tersebut karena disangka ubur-ubur yang menjadi kegemaran mereka. Sampah plastik yang mengapung di bawah permukaan laut juga menghambat aktivitas penyu menyelam lebih dalam untuk mencari makan.

Beberapa negara melakukan terobosan mengatasi persoalan sampah plastik seperti dilakukan China – negara pengimpor sampah plastik terbesar di dunia – dengan memberlakukan larangan impor sampah, walau kebijakan itu merugikan pengusaha pengolah sampah di dalam negeri dan eksportir sampah dari AS dan Uni Eropa.

Bisnis pengolahan sampah di China cukup menggiurkan. Bisa dibayangkan, bahan material sampah plastik yang diimpor bisa mencapai tujuh juta ton untuk diolah, melibatkan sekitar 1.000 perusahaan local yang mengambil untung dari kegiatan tersebut.

India juga memberlakukan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai dan mengenakan sanksi terhadap perusahaan yang melanggarnya termasuk Burger King, McDonald dan Starbucks di kota Mumbai, baru-baru ini. Bagi pelanggaran pertama kali dikenakan denda sekitar 5000 rupee (sekitar Rp1-juta), pelanggaran kedua kalinya 25.000 rupee (Rp5 juta) dan pelanggaraan ketiga kalinya dihukum kurungan tiga bulan, begitu lah seterusnya.

Di Indonesia sendiri, sejauh ini pengelolaan sampah termasuk plastik masih jauh dari harapan, bahkan tampak sejumlah pemda tidak memprioritaskan hal itu, tercermin dari tumpukan sampah di muara-muara sungai, pusat-pusat kerumunan publik , bahkan di jalan-jalan protokol.

Bahkan, Bali yang dijuluki Pulau Dewata dan sebagai salah satu tujuan wisata dunia juga dikeluhkan para wisatawan asing karena maraknya pencemaran sampah terutama di kawasan pesisir dan laut sehingga sangat menganggu wisatawan.

Australia dengan sekitar satu juta wisatawan yang berkunjung ke Bali atau menempati jumlah wisatawan asing terbanyak yang berkunjung ke Pulau Dewata ikut prihatin sehingga kantor konjennya di Bali menggelar lokakarya pengolahan sampah berjudul Waste to Wealth dan baru-baru ini mengerahkan personil dan relawan untuk membersihkan sampah di sepanjang pantai Kuta.

Pegiat lingkungan dan Direktur ecoBali Recycling Ketut Merta Adi menyatakan, terjadinya pencemaran pesisir dan laut khususnya akibat sampah kayu dan plastik menciptakan citra negatif terhadap Bali dan ia sendiri mengaku pernah menerima keluhan dari wisatawan asing.

Penyediaan kantong-kantong plastik belanjaan secara gratis di pasar-pasar swalayan di wilayah Jabotabek juga pernah dihentikan, namun hal itu tidak bertahan lama, sementara kantong plastik digunakan secara luas untuk pembungkus bagi pedagang makanan dan toko-toko atau pasar tradisional sampai di mall dan pasar swalayan.

Upaya untuk menekan penggunaan kantong plastik agaknya perlu dirembuk bersama di antara pemangku kepentingan.

Advertisement