Ribuan Nyawa Melayang Akibat Penggunaan Batubara untuk PLTU

Ilustrasi Tambang Batubara/ist

JAKARTA-Greenpeace mengkritik keras langkah pemerintah yang masih tetap bersikeras menggunakan PLTU batubara sebagai sumber listrik Indonesia di tahun-tahun mendatang.

“Teknologi USC (ultra super critical) pada PLTU batubara hanya meningkatkan efisiensi pembakarantanpa secara signifikan mengurangi jumlah emisi,” ujar Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika dalam keterangan pers, Kamis (8/09/2016).

Bahkan, lanjut Hindun, emisi karbon yang dihasilkan oleh USC masih lebih besar dua kali lipat dari hasil pembakaran gas. Contohnya, untuk satu PLTU batubara Batang yang direncanakan dengan teknologi USC kapasitas 2×1000 MW tetap akan mengeluarkan 10,8 juta ton CO2/tahun yang setara dengan 2,6% emisi Indonesia di sektor energi pada tahun 2010.

 

“Dengan rencana ekspansi PLTU batubara yang masif di bawah proyek 35000 MW, Indonesia hanya akan semakin mengukuhkan dirinya sebagai emiter CO2 besar di tingkat global,” tutur Hindun.

Oleh sebab itu, Hindun menyarankan, pemerintah Indonesia sebaiknya menyesuaikan kembali arah pembangunan di sektor energi setelah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030 atau 41% dengan bantuan internasional, pada perjanjian Paris lalu.

“Untuk menahan laju kenaikan suhu dibawah 2 derajat, dunia harus mencapai nol emisi di tahun 2060-2080 yang berarti pada tahun 2050 dunia harus sudah meninggalkan ketergantungannya terhadap energi fosil,” tukas Hindun.

Tidak hanya dampak perubahan iklim, tetapi polusi udara yang dikeluarkan oleh PLTU batubara juga mengancam kesehatan masyarakat. Polusi batubara dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pernapasan, stroke, penyakit jantung sampai kanker paru.

“Greenpeace melakukan kalkulasi bahwa hanya dengan PLTU batubara yang beroperasi saat ini saja, telah menghasilkan 6.500 jiwa kematian dini tiap tahunnya,” ungkap Hindun.

Jadi, keinginan Asosiasi Batubara dan juga pemerintah Indonesia ini sungguh tidak masuk di akal. Seluruh negara di dunia telah memulai transisinya untuk mengembangkan energi terbarukan secara masif.

 

“Sebut saja, 200 PLTU batubara di Amerika telah ditutup, bahkan Cina telah menambah 31 GW tenaga angin pada tahun 2015 dan 15 GW dari tenaga surya. Dukungan terhadap PLTU batubara hanya akan mengunci dan memperlambat pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” pungkas Hindun.

Advertisement