
JAKARTA, KBKNews.id – Setelah mendapatkan restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bergerak cepat menetapkan jadwal pendistribusian laba bersihnya. Bank swasta terbesar di tanah air ini dipastikan akan mencairkan dividen tunai sebesar Rp34,5 triliun kepada para pemegang sahamnya pada April 2026.
Keputusan ini menjadi angin segar bagi para investor di tengah fluktuasi harga saham perbankan. Setiap lembar saham BBCA dijadwalkan menerima dividen final sebesar Rp281. Jika dikalkulasikan dengan dividen interim sebesar Rp55 per saham yang telah dibayarkan pada November 2025 lalu, maka total “angpao” dari BCA untuk tahun buku 2025 mencapai Rp336 per lembar.
Kalender Penting Distribusi Dividen
Bagi Anda yang ingin mengamankan hak atas dividen ini, perlu memperhatikan jadwal Cum dan Ex dividen agar tidak terlewat. Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan pada Jumat (13/3/2026), berikut adalah linimasa lengkapnya:
- Pasar Reguler & Negosiasi: 27 dan 30 Maret 2026
- Pasar Tunai: 31 Maret dan 1 April 2026
- Recording Date (Daftar Pemegang Saham): 31 Maret 2026
- Tanggal Pembayaran: 8 April 2026
Antara Dividen dan Rencana Aksi Buyback
Selain menetapkan jadwal pembagian laba, RUPST BCA juga menyepakati rencana strategis lainnya. Di antaranya pembelian kembali saham perseroan (buyback) dengan anggaran mencapai Rp5 triliun. Aksi korporasi ini direncanakan berlangsung selama satu tahun ke depan.
Adanya rencana buyback ini memberikan catatan tersendiri bagi perhitungan dividen. Manajemen menjelaskan jumlah saham yang beredar bisa mengalami perubahan seiring berjalannya proses pembelian kembali tersebut.
“Oleh karena itu, realisasi jumlah saham yang akan mendapatkan dividen tunai dapat lebih rendah sesuai dengan akumulasi buyback sampai dengan tanggal pencatatan (record date) pembagian dividen tunai,” ungkap manajemen BBCA dalam keterangan tertulisnya.
Analisis Imbal Hasil di Tengah Pelemahan Saham
Secara hitung-hitungan ekonomi, dividen kali ini memberikan daya tarik tersendiri. Mengacu pada harga penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026) di level Rp6.875, indikasi imbal hasil atau dividend yield yang diterima investor menyentuh angka 4,9%.
Angka ini dipandang cukup atraktif, mengingat performa saham BBCA sedang mengalami tekanan. Sejak awal tahun, harga saham bank ini telah terkoreksi sekitar 14,3%. Bahkan jika ditarik dalam periode satu tahun terakhir, pelemahannya cukup dalam hingga menyentuh 21,4%.
Dengan penetapan jadwal yang pasti, investor kini memiliki pegangan akurat untuk melakukan perencanaan investasi mereka menjelang penutupan tahun fiskal di bulan April mendatang.




