Rujuk Arab Saudi dan Suriah

Presiden Suriah Bashar al-Assad bersama pendukungnya. Suriah dilaporkan sedang dalam proses normalisasi hubungan diplomatik dengan Arab Saudi setelah terputus sejak negaranya dibekukan dari keanggotaan Liga Arab pada 2011.

ARAB Saudi menormalisasi hubungannya yang putus dengan Suriah sejak 2016 pada 10 Maret lalu setelah dimediasi oleh China dan baru saja dilaporkan akan saling membuka kantor perwakilan dengan Suriah.

TV Saudi Al-Ekhbariya mengutip pejabat kemlu melaporkan, Kamis (23/3),  pembicaraan antara Riyadh dan Damaskus sudah dimulai dan menyebutkan rencana pembukaan kantor perwakilan merupakan bagian konsensus bangsa-bangsa Arab.

Sebelumnya Menlu Saudi Faisal bin Farhan mengakui isolasi dunia Arab terhadap Suriah tidak ada manfaatnya dan menyadari, dialog perlu dilakukan, paling tiak terkait isu kemanusiaan.

Liga Arab memutuskan hubungan dengan Suriah sejak negeri itu dilanda perang saudara pasca kematian diktatator Hafez al-Assad pada 2011 yang lalu digantikan oleh puteranya Bashar al-Assad.

Dunia Arab terbelah, sebagian mendukung kelompok oposisi Suriah melawan rezim Bashar al-Assad, sebaliknya Rusia dan Iran ada di belakang al-Assad.

Pernyataan terkait rencana pemulihan kembali hubungan Saudi dan Suriah terungkap setelah Presiden Assad kembali dari lawatan ke Uni Arab Emirat, sebelumnya ke Yaman, sebaliknya sejumlah perwakilan Liga Arab juga bertandang ke Damaskus.

Berita besar sebelumnya adalah rencana normalisasi hubungan antara Saudi dan Iran (10/3) yang memburuk sejak Revolusi Iran pada 1979 sebagai buah sukses mediasi yang dilakukan China.

Rujuk antara Iran dan Saudi merupakan kejutan dan terobosan kebuntuan politik di kawasan Timur Tengah selain peristiwa penting lain seperti Revolusi Iran dan Perjanjian Damai Camp David antara Mesir dan Israel (1979), Perjanijan Oslo antara Israel dan Palestina (1993) dan Gerakan Arab Spring (2010-2011).

Iran dan Saudi  dalam beberapa tahun terakhir ini bersaing  dalam perebutan hegemoni kawasan dan dukung-mendukung para pihak yang berkonflik a.l. di Irak, Lebanon, Suriah dan Yaman.

Dalam konflik di Yaman misalnya, Saudi terlibat langsung dengan mengirimkan pasukannya untuk mendukung  rezim Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi melawan pemberontak milisi etnis Houthi.

Pasukan Saudi terlibat langsung di Yaman, melancarkan  serangan udara dan memblokade posisi-posisi Houthi, sebaliknya,  rudal-rudal Scud (eks-Soviet) yang beberapa kali ditembakkan oleh milisi Houthi  menimbulkan korban di wilayahnya.

Puncak konflik Iran – Saudi berujung pemutusan hubungan diplomatik pada 2016 dipicu aksi massa Iran ke Kedubes Saudi di Teheran dan konsulatnya di kota Mashad untuk memprotes hukuman mati terhadap tokoh Syiah Saudi, Sheikh Nimr-al Nimr.

Beda aliran agama antara mayoritas warga Saudi yang menganut Islam Sunni, sebaliknya Iran yang menganut paham Islam Syiah melatarbelakangi dukung mendukung kedua negara pada kelompok-kelompok aliran tersebut di Lebanon, Suriah, Irak dan Yaman.

Selain rujuk sesama negara Arab, normalisasi hubungan negara-negara Arab dan musuh bebuyutan mereka, Israel, didahului Mesir dalam Perjanjian Camp David, AS pada 1978, Jordania (1994), lalu  Sudan, Maroko dan UEA pada 2020 .

Rujuk sesama Arab, lalu antara kubu Arab dengan Israel diharapkan terus berlgulir membawa angin segar di kawasan Timteng termasuk isu kemerdekaan Palestina. (AFP/Reuters).

 

 

Advertisement