
RUSIA dengan mesin perang raksasa yang dimilikinya belum mampu menaklukkan tetangganya, Ukraina, sesama negara sempalan Uni Soviet, mulai mengandalkan drone-drone untuk menyerang sejumlah sasaran lawan.
AU Ukraina dilaporkan telah menjatuhkan puluhan drone yang diluncurkan untuk menyerang sejumlah sasaran di Ukraina termasuk ibu kota, Kyiv, Zaporizhia, Poltava, Dnipropetrovsk, sejak Sabtu dinihari dan Minggu waktu setempat (26/11).
Media UKraina Pravda dan The Kyiv Independent menyebutkan, serbuan terbesar pesawat-pesawat nirawak Rusia itu berhasil dipatahkan oleh pertahanan udara. Dari 75 drone, hanya satu yang berhasil merusak sebuah bangunan di Kyiv, selebihnya, 74 unit berhasil dijatuhkan.
Menurut catatan, Ukraina selain mengoperasikan sistem pertahanan udara lawas warisan Uni Soviet seperti Pantzir, SAM-7, BUK M-1 dan S-300, juga menggunakan rudal Stinger (AS), IRIS-T (Jerman), Hellfires, NASAM (Nowegia), Mistral (Perancis) dan buatan negara-negara NATO lainnya.
Sebaliknya, Rusia walau juga berusaha membuat drone-drone sendiri, sejauh ini dilaporkan lebih banyak menggunakan drone-drone impor buatan Iran yang dimofifikasi seperti Geran-2 (aslinya Shahed-136).
Yang mengejutkan, menurut Airspace Review beberapa waktu lalu, dari drone yang berhasil dijatuhkan, lalu dibongkar oleh ahli-ahli persenjataan Ukraina, suku cadangnya buatan negara Barat.
Selama Perang Rusia vs Ukraina sejak invasi Rusia pada 24 Feb. 2022, Ukraina lebih dulu memanfaatkan dan secara efektif mengoperasikan pesawat-pesawat nirawak buatan Turki untuk menahan serbuan tank-tank Rusia.
Bahkan pengoperasian drone-drone Ukraina untuk melawan pasukan Rusia dilaporkan dilakukan oleh warga sipil, sementara sukses terbesar Ukraina saat dronnya berhasil menghancurkan jembatan Kerch (Juli lalu), penghubung vital Rusia dengan wilayah yang dianekesasinya, Krimea.
Sebaliknya militer Rusia dilaporkan saat ini sudah berhasil mengembangkan alat pengacak sinyal guna mengacaukan sistem pemandu drone-drone Ukraina.
Drone digunakan secara massif dalam sengketa memperebutkan Nagorno Karabakh di kawasan Kaukasus, Asia Tengah antara dua negara sempalan Uni Soviet yakni Armenia dan Azerbaijan, Sept. 2022.
Drone-drone Bayraktar TB2 dan Anka buatan Turki serta drone kamikaze Harop Israel milik Azerbaijan berandil besar melumpuhkan situs-situs rudal balistik taktis 9K720 Iskander eks Soviet (julukan NATO: SS-26 Stone), tank-tank dan konsentrasi pasukan Armenia.
Penggunaan drone sebagai substitusi, bahkan untuk menggantikan peran pesawat tempur agaknya makin berkembang dalam perang-perang di masa depan karena selain lebih murah, juga ngirit korban manusia. (NS/berbagai sumber)




