
RUSIA sangat prihatin atas rencana pengerahan pasukan NATO ke Greenland, pulau kaya mineral di kawasan Arktik yang diincar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
AFP melaporkan, pernyataan itu disampaikan menyusul pernyataan Perancis, Swedia, Jerman, dan Norwegia, Rabu (15/1) memuat rencana pengiriman personel militer tambahan untuk melakukan misi pengintaian ke ibu kota Greenland, Nuuk.
Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) saat ini beranggotakan 32 negara, selain AS dan Kanada, selebihnya negara-negara di Eropa termasuk sempalan atau satelit Uni Soviet seperti Albania, Bulgaria, Ceko, Hongaria, Slowakia, Slovenia, Estonia, Latvia, Lithuania dan sempalan Yugoslavia (Kroasia, Makedonia, Montenegro).
Rencana pengerahan pasukan empat negara NATO tersebut muncul setelah pertemuan antara pejabat AS, Denmark, dan Greenland di Washington gagal meredam ambisi Trump untuk mengambil alih wilayah otonom milik Denmark itu.
Trump sebelumnya menegaskan, Greenland memiliki arti strategis bagi keamanan AS dan menyebutkan, pulau tersebut akan jatuh ke tangan China atau Rusia apabila pihaknya tidak mengambil alih kendali terhadap pulau tersebut.
“Kami memandang situasi yang berkembang di wilayah lintang tinggi ini sebagai hal yang sangat mencemaskan, “ ungkap pernyataan Kedubes Rusia di Belgia, Rabu (14/1).
Dalam pernyataan yang sama, kedutaan Rusia menuding NATO tengah meningkatkan kehadiran militernya dengan dalih palsu adanya ancaman yang meningkat dari Moskwa dan Beijing.
Meski demikian, hingga Kemenlu Rusia maupun Kremlin belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pengerahan pasukan NATO tersebut.
Sikap dari dua lembaga itu dinilai memiliki bobot politik yang lebih besar dibanding pernyataan perwakilan diplomatik.
Ketegangan di kawasan Arktik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan kehadiran militer Rusia dan NATO di wilayah tersebut.
Perubahan iklim yang memicu mencairnya es laut telah membuka jalur baru bagi pelayaran internasional baru serta eksploitasi sumber daya alam, termasuk aktivitas pertambangan, di kawasan Arktik.
Sebelumnya, Pulau Greenland di tengah kondisi ekstrim wilayah Arktik yang 80 persen ditutupi tudung es membuat aktivitas manusia terbatas.
Manusia pertama tiba di Greenland sekitar 2500 SM. Ketutunan mereka diperkirakan punah dan digantikan sekelompok orang yang bermigrasi dari Amerika Utara. Nuuk, ibu kota Greenland Nuuk dengan luas 690 M2 penduduknya hanya sekitar 17.000 orang.
Di satu sisi, pernyataan dan sikap Trump terkait Greenland disebut telah menimbulkan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya di tubuh NATO.
Menurut kedubes Rusia, perbedaan pandangan internal di antara negara-negara anggota NATO mengenai Greenland membuat kemampuan aliansi itu dalam mencapai kesepakatan bersama menjadi semakin sulit diprediksi.
Isu Greenland menjadi simbol baru ketegangan geopolitik di Arktik, dengan kepentingan keamanan, ekonomi, dan rivalitas kekuatan besar saling bertumpang tindih di kawasan yang semakin strategis tersebut.
Apakah Trump kembali akan melakukan lagi aksi cowboy-nya untuk mengokupasi Greenland seperti yang dilakukannya atas Venezuela? Waktu akan membuktikannya! (AFP/ns)




