JAKARTA, KBKNews.id – Masih ingat film Indonesia berjudul Emak Ingin Naik Haji? Film besutan sutradara Aditya Gumay yang dirilis tahun 2009 itu bercerita tentang seorang ibu tua yang sangat ingin menunaikan ibadah haji, meskipun kehidupannya serba kekurangan.
Kegigihan Sang Emak—yang diperankan oleh aktris senior Aty Cancer—dalam mengumpulkan uang dan usaha anaknya—yang dibintangi oleh aktor muda berbakat Reza Rahadian—untuk mewujudkan impian ibunya menjadi inti cerita yang menyentuh hati.
Film ini dikenal karena alur ceritanya yang sederhana namun kuat, akting para pemain yang memukau, dan pesan moral yang mendalam tentang ketulusan, pengorbanan, dan keyakinan untuk menunaikan ibadah Haji.
Ibadah Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu secara fisik, mental, dan ekonomi.
Ibadah ini merupakan perjalanan spiritual ke Tanah Suci Makkah di Arab Saudi, yang di dalamnya terdapat serangkaian ritual yang telah ditentukan waktunya (bulan Zulhijah dalam kalender Hijriah) dan tata caranya. Puncak ibadah Haji terjadi pada 9 Zulhijah (wukuf di Arafah) dan 10 Zulhijah (Iduladha dan melempar jumrah aqabah).
Secara ringkas, ibadah Haji dan kurban memiliki keterkaitan dalam waktu pelaksanaan, akar sejarah, nilai-nilai ketulusan, pengorbanan, dan keyakinan, serta dimensi sosial dalam Islam.
Keduanya merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu dan dilaksanakan dalam suasana Hari Iduladha yang penuh berkah.
Penyembelihan hewan ternak yang sehat (domba, kambing, unta, sapi, atau lembu) adalah cara pelaksanaan ritual kurban—dalam Islam—yang dianjurkan setelah peristiwa Nabi Ibrahim. Tapi, pernahkah bertanya, mengapa? Apa arti dari hewan/domba ini bagi Nabi Ibrahim?
Maka, sering kali kita juga mendengar kisah yang sangat inspiratif ketika momen perayaan Iduladha. Mengutip artikel dari Kompas.com pada tahun 2019, dikisahkan seorang nenek pemulung bernama Sahnun di Mataram, Nusa Tenggara Barat, menabung selama lima tahun untuk membeli sapi kurban.
“Sahnun setiap hari biasanya mampu mengumpulkan botol plastik sekitar dua karung. Setiap sepekan sekali seorang pengepul datang membelinya. Dia biasa menjual barang bekas yang dikumpulkannya Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per karung. Sahnun mengatakan, sudah sekitar lima tahun mengumpulkan uang untuk diniatkan membeli hewan kurban. Saat ditanya alasan Sahnun ingin berkurban, Sahnun hanya melempar senyuman kecil dengan anggukan, menandakan bahwa niat untuk berkurban tidak ingin diketahui banyak orang,” tulis Kompas.com.
Di sisi lain, melansir Sindonews.com, Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) periode 2019-2024, pernah mengungkapkan bahwa total dampak ekonomi dari kegiatan berkurban di Iduladha 2024 mencapai lebih dari Rp200 triliun.
Angka fantastis ini menunjukkan betapa besar kontribusi kegiatan keagamaan ini terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.
“Rantai pasok penyediaan dan pengadaan (mendapat banyak manfaat), dari sektor hulunya yaitu peternakan, sampai penyiapan pemotongan, hingga pembuatan gulai rendangnya,” kata Sandiaga saat pembagian daging kurban di Kemenparekraf, Rabu (19/6/2024).
Hasil penelitian Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), menunjukkan beberapa kawasan di Jawa Tengah mengalami defisit daging kurban hingga 2.623 Ton pada 2024. Kemudian, beberapa kawasan di Jawa Timur menyentuh angka defisit sebanyak 1.849 Ton.
Berbeda dengan pusat kota seperti DKI Jakarta yang mengalami surplus daging mencapai angka 9.905 Ton pada 2024. Begitu pula dengan daerah-daerah di Jawa Barat yang mencapai 6.355 Ton serta di DI Yogyakarta yang mencapai 4.957 Ton.
Dompet Dhuafa setiap tahunnya menggelar Program Tebar Hewan Kurban (THK) sebagai upaya pemerataan konsumsi daging kurban bagi mereka yang membutuhkan.
Tak hanya itu, sejak kemunculannya pada tahun 1994, THK juga mengatasi surplus daging yang ada di perkotaan dengan mendistribusikannya ke daerah pelosok atau 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Dari perjalanan Tim THK Dompet Dhuafa tahun 2020 lalu juga terdapat kisah Nenek Sehe di Halmahera, Maluku Utara, yang hampir setiap hari hanya makan nasi berkuah air putih saja.
Ia hidup sebatang kara dengan kondisi yang jauh dari kata layak. Distribusi daging kurban Dompet Dhuafa menembus haru Nenek Sehe dan menyentuh kami tim THK di sana saat itu.
Dari Halmahera kita beralih ke Sumatra Barat. Kala itu pascaperistiwa Galodo (banjir bandang lahar dingin) di Kawasan Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar dan Agam, yang terjadi pada tanggal 11 Mei 2024.
Distribusi daging kurban menjadi simbol harapan bagi penyintas Galodo. Bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi dan varian dapur umum bagi masyarakat terdampak, tetapi juga memberikan dukungan moral dan semangat di tengah situasi sulit.
“Berkurban melalui THK ternyata sengaruh itu, karena memberikan tiga manfaat utama: manfaat bagi pekurban, manfaat langsung berupa daging kurban bagi masyarakat yang belum pernah merasakan daging, dan harapan bagi peternak lokal. Melalui program ini, para peternak dapat memanen hewan ternak mereka, sehingga mampu meningkatkan perekonomian dan menggerakkan roda kehidupan mereka, bahkan keberkahan bagi penerima yang utamanya di pelosok negeri,” papar Tanty, Ketua THK 2025 Dompet Dhuafa.
Di Indonesia, upaya ini juga menjadi tantangan yang dilakukan meski berada di wilayah kepulauan. Menjadikan kurban sebagai salah satu sarana interaksi sosial antarmanusia hingga menjamah pulau ke pulau. Sengaruh itu perjalanan hulu ke hilir daging hasil sembelihan hewan kurban.
Tradisi kurban identik dengan kisah keluarga Nabi Ibrahim. Konon amalan ini juga dilakukan sekitar 33 abad sebelumnya, pada masa Nabi Adam (oleh kedua putranya).
Kurban mungkin merupakan ritual tertua yang pernah dilakukan manusia hingga saat ini dan selalu berulang setiap tahunnya melalui perayaan Iduladha (Lebaran Kurban).
Kurban adalah simbol untuk memerangi sifat dan nafsu hewani yang sering kali menjadi tantangan kedekatan manusia kepada Yang Mahakuasa dan hambatan bagi misi kemanusiaan kita.
Meraih keakraban dari pengulangan ritual tertua. Jika memang ketulusan, pengorbanan, dan keyakinan, bisa sengaruh itu, mari berkurban menembus batas keyakinan, tebar kebahagiaan secara merata hingga pelosok negeri melalui digital.dompetdhuafa.org/kurban.





