
TEKAD untuk mewujudkan toleransi digaungkan oleh para pemimpin agama sehingga tidak ada lagi keterbelahan antarumat manusia, apalagi sampai dimanfaatkan oleh kelompok atau elite tertentu untuk ambisi politiknya.
“Setiap pemimpin agama wajib melawan nafsu penguasa untuk berperang dengan mempromosikan dunia yang lebih adil dan damai secara berkesinambungan, “ tutur Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransicus di depan Forum Dialog Timur-Barat di Manama, Bahrain (4/11).
Acara yang disponsori Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifa itu dihadiri sekitar 200 pemuka agama Islam, Kristen dan Yahudi sedunia termasuk Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmad bin al-Tayeb dan Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartolomeus.
Dalam amanatnya, Paus meyakini, pertemuan antarpemimpin agama yang berbeda dapat membantu memulihkan bahkan menghentikan konflik atau perang dengan mempromosikan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan serta menjunjung tinggi kemanuisaan.
Sebaliknya Paus mengakui, dunia tampaknya semakin terbelah bak dua samudera yang berlawanan, namun kehadiran para pemimpin agama di pertemuan Manama ini membuktikan mereka berniat “berlayar di perairan yang sama, memilih jalur pertemuan ketimbang konfrontasi, “ ujarnya.
Paus juga mengingatkan terjadinya paradoks mencolok. “Saat warga dunia Bersatu menghadapi kesulitan sama, menderita akibat krisis pangan dan ekologi, pandemi serta ketidakadilan global yang semakin memalukan, sejumlah elite malah terperangkap dalam mewujudkan kepentingannya sendiri secara partisan, “ kata Paus.
Hentikan Perang Ukraina – Rusia
Sementara Imam Besar al-Azhar Al-Tayeb menyerukan agar Perang Rusia – Ukraina segera dihentikan demi menyelamatkan nyawa orang-orang tak berdosa yang tidak terlibat dalam tragedi kekerasan tersebut.
Ia juga menyerukan agar Muslim aliran Sunni dan Syiah dimana saja untuk terlibat dalam proses dialog demi memulihkan perpecahan yang telah berlangsung berabad-abad.
“Mari kita usir semua nada kebencian, provokasi, penguncilan dan mengenyampingkan segala bentuk konflik kuno dan modern. Al-Azhar siap menjadi tuan rumah pertemuan, “ tandasnya.
Visi toleransi antarumat beragama juga dikumandangkan dalam orum Pertemuan Abu Dhabi (ADFP) yang dihadiri oleh Wapres Ma’ruf Amin (2/11) lalu.
Wapres mengemukakan, penguatan visi untuk mengembangkan toleransi dan Islam yang moderat tak hanya dilakukan oleh RI dan Uni Emirat Arab (UEA) tetapi juga diikuti sejumlah negara di dunia, juga tak hanya dari kalangan Islam, tetapi juga agama lain.
Menyinggung kerjasama RI dan UEA, menurut dia, selama ini sudah dilakukan a.l. pengembangan cara fikir moderat antara Universitas Mohammed bin Zayed dan Universitas NU Yogyakarta.
Indonesia sejauh ini juga sudah mengirim 70 mahasiswa ke UAE sedangkan UAE membiayai pembangunan Masjid Raya Sheik Zayed dan Islamic Center di Surakarta.
Gemakan terus semangat toleransi antarumat beragama, dan khsusus menyongsong pemilu serentak 2024 nanti, tidak ada lagi politisi atau calon presiden yang mengapitalisasi isu agama untuk ambisi politiknya.




