Siswa Harus Tahu, Ini Beda Candaan dan Bullying

Ilustrasi bullying. (Foto: CGN089/Shutterstock)

JAKARTA – Bercanda adalah hal yang lumrah bagi siswa saat berinteraksi. Meskipun demikian, siswa perlu menyadari bahwa candaan dapat berpotensi menjadi sarkasme, konflik, atau bahkan perundungan.

Terkadang, siswa tidak mampu membedakan antara bercanda dan perundungan. Banyak dari mereka yang menganggap candaan yang menyakitkan adalah sesuatu yang normal atau biasa.

Padahal, dampak dari tindakan perundungan sangat merugikan, baik bagi pelaku maupun korban. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memahami perbedaan antara bercanda, sarkasme, konflik, dan perundungan.

Psikolog klinis Annisa Mega Radyani, M. Psi., menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara perundungan dan bercanda terletak pada niat atau intensi pelaku terhadap korban.

“Ada intensi atau ada niat untuk menyakitinya (korban perundungan). Jadi, secara jelas orang tersebut ada keinginan untuk membuat orang lain itu tidak nyaman, membuat orang lain itu terluka jadi ada intensi seperti itu,” kata Annisa, lulusan magister psikologi Universitas Indonesia, dilansir dari Antara.

Perundungan cenderung memiliki niat untuk menyakiti, sementara bercanda hanya didasari motif ingin bersenda gurau tanpa maksud menyakiti.

Annisa juga menekankan bahwa perundungan bersifat spesifik, ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu, dan terjadi secara berulang-ulang.

“Bullying (perundungan) itu memang tidak hanya sekali atau dua kali tapi ketika itu terjadi berulang kali dan dalam waktu berdekatan,” ujar Annisa, yang berpraktik di Ohana Space.

Orang tua memiliki peran penting dalam mendidik anak untuk mencegah perilaku perundungan, termasuk dengan mengajarkan perbedaan antara bercanda dan perilaku yang menyakiti.

“Artinya dari orang tua atau keluarga penting sekali mendidik anak sejak dini untuk memahami apa, sih, bullying (perundungan) itu? Apa, sih, bedanya bullying dan bercanda? Perilaku apa aja sih yang udah disebut sebagai bullying?” ucapnya.

Orang tua juga diimbau untuk mengajarkan konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan anak. Penting bagi mereka untuk tegas dalam menyampaikan batasan perilaku yang diperbolehkan dan yang tidak.

“Kalau memang anak melakukan kesalahan, kita tetap konsisten menyampaikan bahwa itu tidak boleh lagi dilakukan,” tuturnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here