Sri Lanka: Tinggal Glanggang, Colong Playu,

Detik-detik menjelang kaburnya Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa akibat chaos dan krisis ekonomi berkepanjangan.

SEJUMLAH kasus yang tidak perlu ditiru dilakukan oleh pemimpin negara yang secara tidak bertanggungjawab, hengkang diam-diam atau raib saat negerinya mengalami chaos atau huru-hara.

Kasus teranyar, Presiden Sri Lanka Gottabaya Rajapaksa dikabarkan melarikan diri ke Maladewa (13/7) menjelang pembakaran istananya oleh massa yang mengamuk akibat krisis ekonomi ditandai  hyper-inflasi dan kelangkaan BBM sejak April lalu.

Sementara PM Ranil Wickremesinghe yang berdasarkan amanat konstitusi menjabat presiden, juga dituntut mundur oleh ribuan anggota massa yang menduduki kantornya.

Gagal bayar utang senilai 51 juta dolar AS akibat salah urus dan imbas pandemi Covid-19 membuat Sri Lanka bangkrut dan tidak memiliki cukup devisa untuk mengimpor kebutuhan bagi 22 juta rakyatnya.

Antrean panjang bajaj atau jenis kendaraan lain, toko-toko tutup akibat kekurangan pasokan barang, kalau ada apun harganya melangit, menciptakan suasana chaos dan tak terkendali, sementara rakyat yang kelaparan makin garang.

Nasib Sri Lanka ke depannya belum bisa diprediksi, walau PM Wickremesinghe menyerukan pada anggota parlemen dan segenap elemen bangsa untuk bahu-membahu menyelamatkan negeri.

Lari dari Tanggung Jawab

“Tinggal Glanggang, Colong Playu” (lari dari tanggung jawab; bahasa Jawa) antara lain dicontohkan oleh Presiden terakhir Vietnam Selatan Duong Van Minh yang kabur ke AS saat pasukan Vietcong berhasil menguasai Saigon pada 1975.

Sementara diktator Irak Saddam Husein (1979 – 2003) bersembunyi dekat kampung kelahirannya, Tirkit, namun kemudian berhasil diciduk tentara AS, lalu dihukum gantung oleh pengadilan rezim baru Irak, 5 Nov. 2006.

Lain lagi Raja Iran (1941 – 1979) Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Iran dipimpin Ayatullah Khomaini pada 1979. Ia melarikan diri dan mendapat suaka politik di Mesir sampai akhir hayatnya.

Diktator nyentrik Libya Muammar Khadafi (1969 – 2011) tewas secara mengenaskan setelah diuber-uber oleh pasukan NATO dan militer lawannya  yang memergokinya di Distrik Surt, Oktober 2011.

Presiden Ferdinand Marcos (1965 – 1986) dari negara jiran, Filipina yang bergelimang harta setelah berkuasa 21 tahun, mengasingkan diri dan wafat di Hawaii pada 1989 lalu dikebumikan di negerinya.

Pemimpin sejati, dituntut tanggung jawabnya, hadir dan berada di depan di saat-saat paling sulit yang dialami negara dan bangsanya.

Namun dari contoh-contoh di atas, ada pemimpin yang hanya menikmati hidup bergelimang harta, gemerlapan dan mabuk kekuasaan, namun kabur atau raib di masa-masa sulit.   (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement