Stempel Manual yang Tertinggal

0
207

Waktu itu pukul sepuluh pagi, seorang pria  paruh baya sedang asyik dengan bahan karet yang diukir dari pola-pola manual buatannya. Katanya, hari ini sedang ada pesanan untuk pembuatan stempel kantor Rukun Tetangga (RT). Dengan cekatan dan ketelitian, pria berkaca mata ini terus mengukir pola stempel di atas bahan karet itu setiap harinya dan tetap bertahan dengan cara tradisional seperti ini di tengah perkembangan tekonologi sekarang.

Adalah Garyono (46), pemilik salah satu kios jasa stempel di Depok, Jawa Barat. Kiosnya yang  bernama Karya Lestari ini tidak sendirian. Pasalnya, jika anda ke Depok dan bertandang ke Pasar Depok Jaya, maka anda akan menemukan deretan  kios-kios jasa stempel dan percetakan tepat di sebrang pasar tersebut. Pria asal Slawi, Jawa Tengah ini mengaku sudah sejak tahun 1994 melakukan usaha stempel ini, dan bisa dikatakan, dialah pencetus deretan kios jasa pembuatan stempel yang berada di Jalan Raya Nusantara ini.

Konsisten dengan cara tradisional, kata Garyono, cara ini menjadi keunikan tersendiri bagi dirinya. Dia mengaku senang karena tetap bertahan dengan cara tradisional, meski banyak kios lain sudah menggunakan alat cetak (printer, red) untuk pembuatan stempel. Hal itu juga yang membuat para konsumen setianya yang berasal dari beragam kalangan, mulai dari ketua RT, pegawai pemerintah, sampai masyarakat biasa tetap menggunakan jasa pembuatan stempel tradisional yang bisa dikerjakan hanya dalam waktu satu sampai tiga jam ini. Harganya pun cukup murah, berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 20.000 saja tergantung kerumitan pola yang dipesan.

“Selama bertahun-tahun saya tetap menggunakan cara tradisional ini membuat saya menjadi langka dan dicari oleh para pelanggan yang butuh stempel cepat, karena pembuatannya mudah. Saya hanya harus menggambar pola di atas bahan karet, setelah selesai diberi pegangan kayu di atasnya,” jelas ayah dua anak ini.

Memilih usaha sendiri
Dengan menjalani usaha ini selama bertahun-tahun, dia mampu menghidupi istri dan kedua anaknya. Saat ini anak pertamanya berusia 13 tahun sedang duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan anak keduanya sekarang berusia tujuh tahun dan bersekolah di kelas satu sekolah dasar. Garyono bersyukur, meski penghasilannya tidak menentu jumlah per bulannya, dia tetap optimis dan terus konsisten menekuni pekerjaan yang juga menjadi hobinya ini, yang ia pelajari secara otodidak dari para pengrajin seni pahat di kampungnya dahulu.

Setiap harinya dari pukul 07.30 sampai 19.30 WIB, Garyono membuka kios dan siap menerima pesanan stempel dari para konsumennya. Meski harus bersaing dengan banyak pemilik usaha serupa di tempat yang sama, dia tetap optimis dan mampu bertahan sekian lama.

“Meskipun harus bersaing dengan banyak pemilik kios yang lain, saya percaya rezeki sudah Allah atur. Karena itu, saya tetap bertahan menggunakan cara tradisional dan saya lebih suka dengan keterampilan tradisional seperti ini, dibandingkan harus bekerja dengan orang lain,” tambahnya.

Kata Garyono, lebih baik bekerja menjalani usaha sendiri dibandingkan menjadi pegawai atau pesuruh orang lain. Karena itu, pekerjaan ini bisa membuatnya menjadi bos dan tidak perlu disuruh orang lain. Perihal cara tradional yang tetap ia pertahankan, Garyono beralasan, ketika perkembangan teknologi semakin cepat, dia merasa barang-barang tradisional justru semakin dicari orang, karena unik dan bahkan harganya bisa menjadi lebih mahal.

“Semoga usaha saya ini bisa terus maju dan bertahan, agar bisa menghidupi keluarga dan anak-anak bisa terus bersekolah,” harap Garyono. SC

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here