STIM Budi Bakti Gelar Kuliah Umum Bersama Prof Yudi Latif

Prof Yudi Latif saat menjadi Pembicara di Kuliah Umum STIM Budi Bakti. Foto oleh : DDP

Bogor-Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Budi Bakti, menggelar Studium Generale atau Kuliah Umum dengan mengundang Profesor Yudi Latif, seorang cendekiawan muslim yang juga merupakan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa. Acara yang digelar pada selasa (20/2) mengangkat judul “Manajemen Kepemimpinan Negara Demokrasi”.

Yudi Latif yang menjadi pembicara langsung tancap gas ketika microphone diserahkan padanya saat sesi materi dimulai. Ia pun langsung mengajak audience untuk berinteraksi dengannya. Ia memulainya dengan meminta perspektif mahasiswa soal dinamika politik yang saat ini sedang terjadi, terutama soal pemilu yang baru saja diselenggarakan.

Prof Yudi Latif saat berinteraksi dengan mahasiswi STIM Budi Bakti

Yudi Latif menjelaskan dengan detail satu persatu makna dari judul “Manajemen Kepemimpinan Negara Demokrasi”. Di mulai dengan Manajemen, diserap dari bahasa inggris yakni manage, yang artinya mengelola. Sedangkan Kepemimpinan, Yudi Latif menganalogikannya sebagai sebuah Tata Kelola, dan Negara Demoraksi, ia sampaikan dengan mengutip pandangan aristoteles, seorang filsuf yang menyatakan konsep demokrasi dan pemerintahan.

Yudi Latif menuturkan bahwa, dalam setiap pemeritahan selalu ada bentuk negatifnya. contoh, pemerintahan yang dikelola oleh satu orang, atau absolut di sebut monarki, namun bentuk negatif dari monarki adalah tirani. Kemudian pemerintahan yang dikelola oleh sedikit orang disebut aristokrasi, namun sisi negatif dari aristokrasi adalah oligarki. Dan terakhir, adalah pemerintahan yang di pimpin oleh banyak orang, yakni Demokrasi. yang pada akhirnya terjadi distribusi kekuasaan antara Yudikatif, Legislatif dan Eksekutif.

Untuk itu, dia mengajak seluruh peserta yang hadir untuk berpikir kritis dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini, agar konsep membangun negara demokrasi yakni dengan membangun manusianya terlebih dahulu, dengan cara membangun budaya dan peradabannya. Sehingga negara demokrasi bisa menghasilkan budaya dan peradaban yang maju.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here