Sudirman-Thamrin tidak untuk Orang Kecil

S. Sinansari ecip

Yang dimaksud Sudirman-Thamrin di sini adalah nama jalan utama di Jakarta. Jalan ini jenis boulevard, yakni jalan dua arah  yang dipisahkan oleh taman di tengahnya. Contoh lain Jl. Diponegoro-Jl. Imam Bonjol, sama-sama di Jakarta Pusat.

Di Jl. Sudirman akhir tahun 50-an atau awal tahun 60-an masihlah sepi. Mobil pribadi masih sedikit. Mobil kecil segi empat (sering disebut kotak sabun) merk Masda, sedan kecil merk Toyota, dan bemo roda tiga baru masuk Jakarta. Bus kota panjang milik PPD antara lain beroperasi dari lapangan Banteng – Blok A Kebayoran Baru pulang pergi. Sepeda motor masih sedikit, paling-paling ada merk lama BSA dan DKW. Sepeda ontel berseliweran tapi juga tidak banyak.

Pada malam hari, jarang orang berani naik sepeda dari Menteng ke Kebayoran atau sebaliknya karena sepi. Penerangan jalan sangat kurang. Kejahatan masih sesekali terjadi.

Pada waktu itulah dibuat sebuah jembatan yang bersejarah. Di banyak sungai di daerah pedalaman tidak mempunyai  jembatan. Ini sebaliknya, di tengah Jalan Sudirman dibuat jembatan tanpa ada sungainya. Itulah jembatan yang menggunakan nama tanaman sayur yang sudah jarang ditemukan, yaitu semanggi. Jembatan semanggi ini yang pertama di republik asap. Beberapa orang bule ikut mengawasi pembuatan jembatan semanggi tersebut.

Pada waktu  yang bersamaan dibuat proyek Senayan, yakni kompleks olahraga. Stadion besar megah dengan atap berbentuk temu gelang dibangun. Jalanan baru dibuat. Hasil kerja besar yang dimotori Presiden Sukarno itu masih gagah sampai sekarang. Perhelatan olahraga internasional pertama diselenggarakan di situ adalah Asian Gemas (1962).

Perkembangan betikutnya di sepotong jalan besar itu ada pemasangan patung pemuda di ujung selantan dan patung Panglima Sudirman di Dukuh Atas. Tak jauh dari Monas ada patung Husni Thamrin tapi kecil. Taman di separator tampak lebih segar. Itu saja.

Perkembangan berikutnya adalah di kedua sisi taman disediakan sebagai jalur busway (jalan khusus untuk Bus Transjakarta)  yang berlawanan arah.

Dalam waktu dekat (2018?) akan ada perkembangan yang lebih besar. Di bawah tanah akan ada kereta transportasi cepat (mass rapit transid, MRT) untuk mendampingi jalur busway di atasnya. Di tempat-tempat tertentu akan ada pemberhentian stasiun, bukan tidak mungkin di bawah Bundaran HI ada penyeberangan besar dengan kegiatan ekonomi di situ.

Jembatan-jembatan penyeberangan yang melintang di atas jalan dipindahkan. Orang yang akan menyeberang jalan, dipaksa ke lorong bawah tanah, tidak berpanas-panas matahari.

Akan disiapkan trotoar (tempat orang jalan kaki) yang lebarnya sekitar 10 meter. Pohon-pohon akan ditanam di trotoar. Trotoar yang lebar memberi kesempatan pejalan kaki dengan leluasa. Pohon-pohon akan melindungi mereka. Di beberapa tempat ada penjualan makanan dan minuman sekaligus sebagai arena nongkrong. Bangunan baik itu berupa perkantoran atau pun hotel tidak berpagar lagi.

Secara sekilas terkesan jalanan ini untuk kalangan atas. Pada hari-hari tertentu Sudirman-Thamrin akan meneruskan kebiasaan bebas kendaraan bermotor. Orang-orang yang kekurangan tempat untuk bersenang-senang dan olahraga akan bergembira ria. Penduduk kampung-kampung akan ikut berdatangan.

Kegiatan ekonomi ikut berkembang. Bagaimana dengan masyarakat kalangan bawah? Jangan biarkan mereka hanya menjadi penonton atau maksimal sebagai konsumen paling bawah. Mereka hanya mendapatkan kepuasan mata tapi tidak mendapatkan kepuasan hati. Mereka mungkin hanya sedikit bangga memandang segala kekayaan yang teronggok di Sudiraman-Thamrin tersebut.

Barangkali akan lebih baik jika masyarakat kecil ikut dilibatkan aktif di bidang ekonomi. Misalnya ada pasar subuh khusus untuk jual beli jajanan yang dibuat oleh orang kampung, bukan perusahaan besar. Pasar makanan Ramadhan di Benhil, warung nasi uduk Kebon Kacang yang terkenal bisa diberi fasilitas mendekati Sudirman-Thamrin. Koperasi boleh memberdayakan mereka. Angkutan umum untuk jalanan penghubung masuk dan keluar Sudirman-Thamrin diselenggarakan oleh transportasi sederhana, seperti bemo di Karet tapi diganti kencaraan yang baru dengan bantuan dana bank. (**)

 

Advertisement