Sumbangan Perusahaan di Indonesia Rp1,04 triliun per bulan

0
287

JAKARTA – Kegiatan filantropi atau kedermawanan yang dilakukan perusahaan di Indonesia menunjukkan trend positif dan jumlahnya meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Hal itu tergambar dari hasil penelitian PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) dan Dompet Dhuafa yang mencatat jumlah sumbangan yang disalurkan perusahaan mencapai Rp 12,45 triliun atau sekitar Rp 1,04 triliun per bulan. Sumbangan tersebut disalurkan oleh 400 perusahaan untuk mendukung 1416 program sosial.

Penelitian “Trend Corporate Philanthropy di Indonesia” ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kegiatan filantropi perusahaan yang dipublikasi di 14 media cetak dan 14 media online selama tahun 2014.

Hasil penelitian tersebut disampaikan pada acara Public Expose “Trend Filantropi Perusahaan: Perkembangan dan Perbandingan” yang digelar oleh PIRAC dan Dompet Dhuafa di Kedai Tjikini, Jakarta, Senin siang (15/6/2015)

Hamid Abidin, Direktur Eksekutif PIRAC, menjelaskan bahwa jumlah perusahaan yang menyumbang menurun  dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dari 455 perusahaan (2013) menjadi 400 perusahaan (2014). Penurunan juga terjadi pada jumlah kegiatan yang didukung atau disumbang perusahaan, dari1856 program (2013) menjadi 1416 program (2014). Namun, jumlah sumbangan perusahaan justru meningkat dari Rp 8,6 trilyun (2013) menjadi Rp Rp 12,45 triliun (2014) atau naik hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Meski tahun 2014 dikenal sebagai “tahun politik”, kegiatan filantropi tampaknya tak terpengaruh hiruk pikuk pesta demokrasi. Hajatan politik berupa Pemilu Legislatif (April 2014) dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Juli 2014) ternyata tak menyurutkan animo dan minat perusahaan untuk menyumbang atau menyelenggarakan kegiatan sosial. “Perusahaan terus menjalankan kegiatan filantropi karena sudah sudah direncanakan atau menjadi program rutin perusahaan.” kata Hamid.

Program filantropi perusahaan justru banyak dipengaruhi dan didorong oleh beragam bencana yang terjadi di berbagai daerah selama tahun 2014, mulai dari letusan gunung Sinabung dan Merapi, banjir Bandang di Aceh, Manado dan Kabupaten Bandung, Tanah Longsor di Banjarnegara dan Kabupaten Bogor, serta bencana lainnya.

Yuli Pujihardi, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa menambahkan bahwa kesadaran perusahaan untuk berbagi dan mendukung kegiatan sosial nampaknya sudah mulai menyebar ke berbagai daerah. Hal ini terlihat dari daerah atau lokasi perusahaan penyelenggara kegiatan filantropi pada 2014 yang cenderung lebih tersebar di berbagai daerah di Indonesia dibanding tahun sebelumnya.

Namun demikian, kegiatan filantropi masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan yang berlokasi di pulau jawa (82%), khususnya Jakarta.

Kegiatan filantropi sebagian besar dilakukan oleh kantor pusat perusahaan (87%) dan  cenderung dilaksanakan di sekitar lokasi perusahaan. Hal ini terlihat dari pemilihan lokasi kegiatan filantropi yang masih dominan di wilayah pulau jawa (61%).

“Kecenderungan tersebut membuat kegiatan filantropi perusahaan belum tersebar secara merata dan menyentuh daerah-daerah lain di luar Jawa yang lebih tertinggal dan membutuhkan dukungan. Selain pertimbangan biaya operasional, faktor kemudahan dalam melakukan publikasi nampaknya juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi program” kata Yuli.

Tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya, kegiatan filantropi di tahun 2014 juga masih didominasi oleh kegiatan-kegiatan yang sifatnya insidental dibandingkan program terencana. Bahkan, ada kecenderungan kegiatan filantropi perusahaan yang sifatnya insidental lebih tinggi (72%) dibandingkan tahun 2013 (62%).  Sumbangan insidentil ini umumnya tidak terencana dan diberikan karena ada permintaan dari luar atau karena ada kondisi darurat, seperti bencana alam. Sementara sumbangan terencana biasanya bersifat jangka panjang, memiliki prioritas yang jelas, dan dianggarkan secara kontinyu oleh perusahaan..

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Kegiatan filantropi perusahaan sebagian besar dilakukan oleh perusahaan nasional dan multinasional. Namun, ada perkembangan menarik di mana jumlah perusahaan lokal yang melakukan kegiatan filantropi mengalami kenaikan signifikan, dari 9% (2013) menjadi 23% (2014). Ini mengindikasikan mulai terbangunnya kesadaran perusahaan lokal untuk berkontribusi bagi pembangunan sosial di daerahnya.

Dilihat dari sektor perusahaan, perusahaan yang banyak melakukan kegiatan filantropi adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan, jasa dan investasi (34%). Jumlahnya pun meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sektor usaha lain yang juga banyak melakukan kegiatan filantropi adalah sektor keuangan (18%) dan industri barang konsumsi  (15%).

Sementara sektor perusahaan yang sedikit melakukan kegiatan filantropi adalah sektor pertanian, properti dan real estate, serta multi sektor. Sedangkan sektor usaha yang mengalami penurunan dalam kegiatan filantropi adalah sektor aneka industri.

Ditilik dari bidang atau program yang didukung, pola pemberian dukungan perusahaan sedikit mengalami perubahan. Jika di tahun sebelumnya program pendidikan, kesehatan dan lingkungan yang mendapatkan banyak dukungan, pada tahun 2015 pengalokasian sumbangan didominasi kegiatan penyantunan dan pelayanan sosial.

Hal ini terkait banyaknya peristiwa bencana alam yang terjadi di tahun 2015 yang mendorong perusahaan banyak menyalurkan sumbangannya untuk kegiatan penyantunan dan pelayanan sosial di daerah bencana. Meski jumlah sumbangan yang diberikan mengalami penurunan, program pendidikan (21%), kesehatan (20%) dan lingkungan (16%) masih menjadi program yang banyak didukung perusahaan.

Dibanding tahun sebelumnya, pola penyaluran sumbangan tidak mengalami perubahan yang signifikan. Perusahaan lebih banyak mengelola sendiri kegiatan filantropi atau penyaluran sumbangannya (59%) dibandingkan melalui kerja sama atau kemitraan dengan pihak lain (35%).

Pola ini umumnya dipilih dengan alasan efisiensi dan efektivitas penyaluran sumbangan. Tak berbeda dengan tahun sebelumnya, LSM dipilih oleh banyak perusahaan dalam mengembangkan kemitraan. Hal itu bisa mengindikasikan mulai membaiknya relasi antara perusahaan dengan LSM. Selain LSM, perusahaan juga bermitra dengan pemerintah/pemda, organisasi pengelola ZIS, sekolah/perguruan tinggi serta perusahaan lainnya. Selain itu, perusahaan juga menyalurkan sumbangannya melalui organisasi internal, seperti yayasan perusahaan dan organisasi karyawan.

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here