PADANG – Stasiun Klimatologi BMKG Sumatra Barat memproyeksikan bahwa beberapa wilayah di provinsi tersebut akan mengalami musim kemarau selama dua hingga empat bulan.
“Di Sumatra Barat, musim kemarau berlangsung minimal dua hingga maksimal empat bulan, dan musim hujan lebih dominan,” kata Rizky Armei Saputra, Analisis Klimatologi dan Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Klimatologi BMKG Sumbar, di Padang, Jumat (11/8/2023).
Beberapa daerah yang diperkirakan akan mengalami musim kemarau antara lain Pasaman bagian utara, Kabupaten Limapuluh Kota, Payakumbuh, Agam bagian timur, Tanah Datar, Bukittinggi, Solok, Kota Solok, Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya, dan Solok Selatan bagian timur.
Rizky menjelaskan bahwa selama bulan Agustus 2023, beberapa wilayah di Sumatra Barat, seperti Kecamatan Rao di Kabupaten Pasaman, Kabupaten Limapuluh Kota, Payakumbuh, Tanah Datar, Sijunjung, dan Kabupaten Solok, akan mengalami musim kemarau.
“Walaupun BMKG memprediksi kondisi masih normal, tetap perlu melakukan tindakan antisipasi karena cuaca sangat dinamis, bisa berubah dengan cepat,” katanya, seperti diberitakan Antara.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat faktor penting dalam skala global yang memengaruhi curah hujan di Sumatera Barat, yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) mode dan gangguan jangka pendek (intraseasonal).
“Untuk IOD, fase-fasenya dapat berubah-ubah sesuai dengan suhu anomali permukaan laut di bagian barat dan timur Samudera Hindia,” kata Rizky.
Fase positif dari Indian Ocean Dipole (IOD) sering ditunjukkan dengan penurunan curah hujan dari tingkat normal. Sebaliknya, fase negatif IOD dapat meningkatkan jumlah hujan. Di Sumatera Barat, pengaruh IOD lebih kuat karena jaraknya yang lebih dekat.
“IOD positif terjadi pada September hingga November 2018 dan Mei hingga November 2019,” ungkapnya.
Secara keseluruhan pada tahun 2023, BMKG memproyeksikan puncak El Nino terjadi pada Oktober. Indeks Elnino Southern Oscillation (Enso) pada Agustus 2023 diklasifikasikan sebagai moderat dengan nilai 1.148.
Diprediksi, kondisi tersebut akan tetap dalam fase moderat hingga November 2023 dan akan melemah kembali menjelang akhir tahun.
“Namun demikian, beberapa lembaga meteorologi internasional memperkirakan adanya peluang El Nino yang lebih kuat,” ujarnya.
Sebagai informasi tambahan, Enso atau El Nino adalah sebuah pola iklim berulang yang melibatkan perubahan suhu di perairan bagian tengah dan timur Samudera Pasifik dalam wilayah tropis. El Nino telah terdeteksi kembali pada pertengahan Maret 2023, dimulai dari indeks yang lemah dan bergerak menuju tingkat moderat.
Fenomena El Nino menyebabkan penurunan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia. Peristiwa ini disebabkan oleh interaksi antara lautan dan atmosfer/udara yang berdampak pada cuaca dan iklim secara global dan regional.





