SUMUR JALATUNDA (2)

Patih Suramenggala heran, penampilan Betara Temboro bener-bener seperti juragan toko material.

LEGALAH Prabu Jaya Bagendra, lewat petunjuk Betara Wisnu dia berhasil mengatasi masalah tanpa harus ke Kantor Pegadaian. Penguasa negri Ganggang Kencana ini lalu panggil patih Suramenggala, untuk mengabarkan bahwa telah mendapat solusi dari kahyangan. Dengan cara ini sangat menghemat anggaran APBD. Tak perlu lagi bikin tempat pengungsian dan sediakan ribuan nasi bungkus.

Sebetulnya Prabu Jaya Bagendra masih awam banget soal sumur resapan merk Jalatunda ini. Ketika dia berburu data ke Mbah Google, ditemukan informasi bahwa sumur itu tak lebih tumpukan bis beton bergaris tengah 1 meter dan tingginya 50 cm. Data teknisnya, setiap Sumur Jalatunda membutuhkan kedalaman minimal 3 meter alis 6 pasang bis beton. Makin dalam sumur resapan itu, semakin banyak air banjir bisa diserap atau ditangkap.

“Air banjir kok ditangkap, salah apa dia. Apa terlibat terorisme macam Munarman Galak?” kata Patih Suramenggala ketika diajak  representasi  soal sumur Jalatunda oleh Prabu Jaya Bagendra.

“Maksudnya air itu meresap ke dalam sumur, goblok!” jawab Prabu Jaya Bagendra kesal, karena omongan patihnya ini sering tak sejalan.

Patih Suramenggala tartawa ngakak demi mendengar paparan sang raja. Jika sumur Jalatunda bentuknya hanya seperti itu, bikin sendiri juga bisa, tak perlu minta bantuan dari kahyangan. Apa sih susahnya bikin cetakan bis beton macam begitu. Kan bahannya cukup pasir, semen, batu split lalu dicetak pada lingkaran plat besi. Sehari juga jadi, tinggal dikeringkan sebelum dipasang permanen.

Tapi kata Prabu Jaya Bagendra sesuai garansi Prabu Betara Wisnu, Sumur Jalatunda made in kahyangan ini beda.  Setelah dipasang kedalaman 3 meter atau lebih, ke bawah langsung bisa terhubung dengan kahyangan Saptapratala. Walhasil air tangkapan dari ngercapada cepat terserap karena tembus langsung samodra. Ini berkat Sanghyang Antaboga penguasa kahyangan Saprapratala bekerja sama dengan Sanghyang Baruna penguasa laut dan rajanya kalangan ikan.

“Karena itulah Patih, siapkan anggaran untuk pengadaan Sumur Jalatunda dari kahyangan itu.” Titah Prabu Jaya Bagendra lagi.

“Busyetttt…….bayar toh ini? Saya pikir karena bantuan dari kahyangan, semuanya gratis. Ternyata dewa-dewa doyan duit juga.” Gumam Patih Suramenggala.

“Biar bayar tapi lebih murah karena disubsidi. Dan ngitungnya harus pas, jangan sampai terjadi kelebihan bayar lagi.”

Lagi-lagi Patih Suramenggala tertawa ngakak. Sebetulnya dia banyak beroposisi dengan program raja, tapi ketimbang dimutasi, segala kemauan Prabu Jaya Bagendra diiyain saja. Sedangkan pelaksanaan nanti dibelok-belokkan barang sedikit sang raja diam saja, karena memang tak pernah cek ke lapangan.

Dan Patih Suramenggala terkaget-kaget ketika ditugaskan ke Jonggring Salaka, mengawal turunnya bantuan Sumur Jalatunda tersebut. Pimpronya ternyata Betara Temboro, dewa yang terkenal mata duitan. Jangan-jangan pengadaan Sumur Jalatunda itu sebenarnya gratis, tapi sengaja dimainkan oleh Betara Temboro. Maklum, dewa ini terkenal paling kreatif jika urusan duit.

Demikianlah, Patih Suramenggala telah meluncur ke Suralaya. Tapi rupanya dia lupa bawa hasil test PCR sehingga harus masuk karantina di hotel kahyangan. Selama 10 hari utusan dari Ganggang Kencana itu harus bayar Rp 19 juta. Untung saja dia bawa uang cukup dan masih ada ATM sebagai pengaman. Selama 10 hari di di hotel Patih Suramenggala hanya makan tidur belaka. Bahkan ditawari bidadari sebagai teman tidur, tapi Ki Patih menolak.

“Ketimbang bengong, Oom, ini ada “obat anget” produk kahyangan. Mau long time atau short time?” kata bidadari itu menawarkan diri.

“Enggaklah Mbak, saya ke sini fokus ngurus sumur resapan, jangan ditawari “sumur” yang lain. Coba ke yang lain saja.” Jawab Patih Suramenggala lugu sekali, maklum selama jadi wayang dia hidup lurus-lurus saja tak banyak tingkah.

Baru hari ke-11 Patih Suramenggala bisa merapat ke kahyangan Sela Mangumpeng, tempat kediaman Betara Temboro. Di halaman rumahnya yang luas nampak tumpukan bis beton. Sepertinya ini yang dinamakan Sumur Jalatunda. Dalam hati Patih Suramenggala membatin, ini istana para dewa atau pabrik bis beton sih. Begitulah jika dewa-dewapun suka ngobyek.

Di pintu gerbang tampak Satpam mengawasi gerak-gerik Patih Suramenggala dengan penuh kecurigaan. Beda 180 drajat dengan Satpam Bank BCA. Ketika disebut mau ketemu Betara Temboro, jawabnya singkat dan ketus, “Nggak ada!” Tapi ketika Patih Suramenggala buka dompet dan mengeluarkan 2 lembar ratusan merah, mendadak ramah melebihi Satpam BCA itu tadi.

“Apa yang bisa saya bantu, Pak?” kata Satpam, mungkin teman Jaramaya.

“Ah, lagakmu! Bosmu ada?” kata Suramenggala sambil memasukkan uang itu ke saku Satpam.

Satpam  angkat interkom dan tak lama kemudian Patih Suramenggala dipersilakan masuk setelah meninggalkan KTP-nya. Di dalam sana ternyata Betara Temboro hanya sedang santai-santai saja nonton Youtube.  Tapi demi ada tamu, HP-nya lalu dimatikan. Dan sebagai dewa, dia sudah tahu duluan apa maksud kedatangan tamunya. Maka tanpa basa-basi langsung saja Patih Suramenggala ditembak langsung.

“Butuh berapa banyak Sumur Jalatunda?”

“Untuk percobaan Ganggang Kencana ambil seribu lobang saja dulu, Pukulun.” Jawab Suramenggala.

“Untuk proyek nasional jangan coba-coba, harus yakin. Seribu lobang berarti 6.000 bis beton. Mana alamatnya, besok barang dikirim.” Kata Betara Temboro persis juragan material saja.

Hanya 10 menit Patih Suramenggala di Sela Mangumpeng. Setelah menerima nomer rekening Betara Temboro dia segera transver lewat bank uang sebanyak Rp 10 miliar sebagai pembelian 1.000 Sumur Jalatunda. Dan benar saja, beberapa hari kemudian truk-truk hilir mudik mengantar ribuan bis beton ke Ganggang Kencana. Ada tulisan cocolan: made in Jonggring Salaka, jangan dibanting! (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement