Sunah Nabi Muhammad SAW saat Turun Hujan, Yuk Ditiru

Nabi Muhammad Saw melakukan ini saat hujan. (Foto: Freepik)

Jakarta, KBKNews.id – Belakangan, banyak daerah mengalami curah hujan yang tinggi. Selain menjadi sumber kesyukuran, hujan deras juga memicu kekhawatiran akan bencana.

Dalam kondisi seperti ini, manusia dituntut untuk berikhtiar secara lahiriah. Di antaranya seperti memperbaiki saluran air, memastikan drainase lancar, dan menjaga lingkungan.

Namun, yang tak kalah penting yakni ikhtiar. Umat Muslim seyogyanya berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Dalam sejumlah riwayat, diceritakan Rasulullah Saw selalu melakukan doa atau tindakan tertentu ketika hujan turun, angin besar bertiup, atau awan hitam menggantung di langit.

Imam Abu Bakr al-Thuthusyi al-Andalusi merangkum beberapa sunah tersebut dalam kitab al-Du’a al-Ma’tsûr wa Âdâbuhu—panduan adab dan doa seorang mukmin ketika berhadapan dengan fenomena alam.

Berikut empat sunah Rasulullah Saw yang bisa diamalkan saat hujan turun.

1. Menyingkap Pakaian untuk Kena Hujan Pertama

Ketika hujan pertama turun, Rasulullah Saw memiliki kebiasaan unik namun sarat makna. Beliau menyingkap sebagian pakaian (bukan aurat) agar tubuhnya tersentuh air hujan. Dalam riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Anas RA, para sahabat bertanya mengapa beliau melakukan itu.

Rasulullah menjawab:

“Karena hujan adalah rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah.”

Imam al-Nawawi menjelaskan makna kalimat “hadîts ‘ahd bi rabbihi”. Hujan adalah rahmat yang baru Allah ciptakan, sehingga Rasulullah bertabarruk (mengambil berkah)dengan air itu.

Para ulama Syafi’iyah kemudian memandangnya sebagai sunah. Membuka sedikit pakaian yang bukan aurat saat hujan pertama turun sebagai bentuk syukur dan memohon keberkahan.

Tindakan sederhana ini mengingatkan kita, hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi tanda kasih sayang Allah.

2. Membaca Doa saat Melihat Awan Hitam

Ketika langit mulai menghitam dan awan pekat menggantung, Rasulullah Saw tidak menganggapnya sepele. Dalam riwayat Aisyah RA, beliau bahkan menghentikan pekerjaan yang sedang dikerjakan (meski itu adalah shalat) untuk segera berdoa:

“Allahumma innî a’ûdzu bika min syarrihâ.”
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan awan ini.

Dan ketika hujan akhirnya turun, beliau berdoa:

“Allahumma shayyiban nafi‘an.”
Ya Allah, turunkanlah hujan yang membawa manfaat.

Doa ini mengajarkan kita kewaspadaan yang proporsional. Awan gelap tidak selalu menandakan bencana, tetapi umat Islam diajarkan untuk selalu memohon keselamatan sebelum sesuatu terjadi.

3. Terus Berdoa ketika Angin Kencang Berhembus

Angin bisa menjadi rahmat, namun juga bisa berubah menjadi azab. Itulah pesan Rasulullah Saw dalam riwayat Abu Hurairah RA. Ketika angin besar datang, beliau tidak mencacinya, tetapi berdoa:

“Ya Allah, mohonkanlah kepada-Mu kebaikannya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”

Rasulullah menekankan agar angin tidak dicela, karena ia adalah bagian dari ciptaan dan perintah Allah. Doa merupakan benteng batin seorang mukmin agar segala potensi bahaya berubah menjadi kebaikan.

4. Doa Rasulullah saat Melihat Awan dan Mendung

Ketika melihat awan menggumpal atau langit mulai mendung, Rasulullah Saw memohon agar hujan yang dibawanya menjadi rahmat, bukan azab. Dalam riwayat Ibnu al-Musayyab, Rasulullah berdoa:

“Allahumma sayyiba rahmatan wa lâ sayyiba ‘adzâban.”
Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai rahmat, bukan azab.

Doa ini menjadi penegas, setiap fenomena alam mengandung kemungkinan kebaikan maupun keburukan. Dengan doa, seorang hamba mempercayakan hasilnya kepada Allah, sembari terus melakukan tindakan nyata untuk menjaga keselamatan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here