JAKARTA – Sebagai manusia, kita diciptakan dengan berbagai keterbatasan dan kecenderungan untuk berbuat salah. Tidak mungkin seorang manusia biasa mencapai derajat maksum (terjaga dari dosa secara mutlak) sebagaimana para nabi yang mendapatkan penjagaan khusus dari Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan membinasakan kalian dan menggantinya dengan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka beristigfar kepada Allah dan Allah pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukanlah pembenaran untuk meremehkan dosa atau sengaja bermaksiat. Sebaliknya, hadis tersebut menunjukkan betapa Allah mencintai hamba-hamba yang menyadari kesalahannya lalu kembali kepada-Nya dengan penuh penyesalan dan tobat.
Karena itu, seorang Muslim harus memiliki “rem” yang mencegah dirinya terjatuh ke dalam kemaksiatan. Salah satu cara memperkuat rem tersebut adalah dengan memahami dampak buruk dosa. Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab *Ad-Da’ wa Ad-Dawa’* menjelaskan berbagai akibat buruk dari kemaksiatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Dampak Terburuk Maksiat: Terputusnya Hubungan dengan Allah
Di antara sekian banyak dampak negatif dosa, yang paling mengerikan adalah terputusnya hubungan seorang hamba dengan Allah Rabbul ‘Alamin.
Setiap makhluk hidup bergantung sepenuhnya kepada Allah. Tidak ada seekor hewan pun yang mampu hidup tanpa rezeki dan pengaturan-Nya. Terlebih manusia yang dimuliakan dengan akal dan diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Ketika seseorang terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan tanpa tobat, hubungan spiritualnya dengan Allah akan semakin melemah. Akibatnya:
1. Sebab-sebab datangnya kebaikan menjadi terputus.
2. Sebab-sebab keburukan semakin kuat menguasai dirinya.
3. Hatinya kehilangan ketenangan dan keberkahan.
4. Hidupnya terasa sempit meskipun memiliki banyak kenikmatan dunia.
Jika pertolongan Allah telah menjauh, maka tidak ada lagi sumber kebahagiaan dan keberuntungan yang sejati bagi seorang hamba.
Tukaran yang Sangat Buruk: Menjadikan Setan sebagai Pelindung
Ketika hubungan dengan Allah terputus akibat kemaksiatan, seseorang menjadi mudah dikuasai oleh musuh abadinya, yaitu setan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah Iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50)
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan betapa buruknya pertukaran yang dilakukan oleh pelaku maksiat. Seorang hamba yang seharusnya mendapatkan perlindungan, pertolongan, dan kasih sayang Allah justru berpaling kepada jalan yang disukai setan.
Pada hakikatnya, setiap kemaksiatan adalah bentuk ketaatan kepada setan. Semakin sering seseorang mengikuti hawa nafsu dan bisikan setan, semakin kuat pula pengaruh setan dalam kehidupannya.
Perbanyak Istigfar dan Tobat
Kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak akan sempurna sampai seorang hamba memusuhi apa yang dimusuhi oleh Allah, yaitu setan dan segala bisikannya. Oleh sebab itu, kita harus terus berjuang melawan godaan yang mengajak kepada dosa.
Namun apabila kita terjatuh dalam kemaksiatan, jangan pernah berputus asa. Allah Yang Maha Pengampun selalu membuka pintu tobat bagi hamba-hamba-Nya.
Perbanyaklah istigfar dengan penuh keikhlasan, renungkan dosa-dosa yang pernah dilakukan, baik yang masih diingat maupun yang telah terlupakan. Mohonlah ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh.
Di antara doa yang dapat dipanjatkan adalah:
“Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku; yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang akan datang, yang kulakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku sendiri.”
Semoga Allah menjauhkan kita dari kemaksiatan, menjaga hati kita agar tetap dekat dengan-Nya, serta mengaruniakan tobat yang tulus sebelum ajal menjemput. Aamiin.
Artikel ini disarikan dari ceramah Ustaz Rizal Yuliar Putrananda, Lc. berjudul “Maksiat Memutuskan Hubungan Hamba dengan Rabb-Nya” yang tayang di kanal Jakarta Mengaji.





