Ada Apa di Bulan Muharram? Mengambil Pelajaran dari Bulan Haram dan Kisah Asyura

Ilustrasi masjid (Foto: ChatGPT)
JAKARTA, KBKNews.id – Bulan Muharram bukanlah bulan biasa. Bulan ini memegang posisi yang sangat agung dalam kalender Islam, baik dari sisi spiritualitas maupun rekam jejak sejarah peradaban tauhid.
Umat Islam sebentar lagi akan menyambut Tahun Baru 1448 Hijriah. Memahami keutamaan bulan Muharram sangat penting untuk menjalani kehidupan yang selaras dengan Al-Qur’an dan sunah.
Berikut ini lima poin penting dari bulan Muharram:
1. Muharram Sebagai Bagian dari Bulan-Bulan Haram
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang Allah SWT tetapkan sebagai Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram/mulia). Di dalam Islam, bulan-bulan ini memiliki kehormatan yang sangat besar di mana nilai ketaatan ditinggikan, dan sebaliknya, dosa kemaksiatan dinilai jauh lebih berat.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…” (QS. At-Taubah: 36)
Nabi Muhammad SAW merinci keempat bulan tersebut dalam khutbah beliau saat Haji Wada’:
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْMَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Artinya: “Zaman berputar sebagaimana harinya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Dan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4662 & Muslim no. 1679)
2. Larangan Berbuat Zalim dan Keutamaan Puasa Sunah
Melalui Surah At-Taubah ayat 36 di atas, Allah SWT secara eksplisit melarang kita untuk berbuat zalim (fala tazhlimu fihinna anfusakum), baik menzalimi diri sendiri dengan kemaksiatan, maupun menzalimi orang lain. Imam Qatadah (seorang tabi’in ahli tafsir) menjelaskan bahwa kezaliman di bulan-bulan haram memiliki kadar dosa yang lebih besar dan fatal di hadapan Allah SWT dibandingkan bulan lainnya.
Sebagai gantinya, umat Islam diperintahkan untuk mengisi bulan ini dengan amal saleh, terutama ibadah puasa sunah. Muharram bahkan disebut langsung oleh Rasulullah SAW sebagai bulan Allah (Syahrullah), menandakan keagungan kedudukannya.
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim no. 1163)
3. Puncak Kemuliaan: Hari Asyura (10 Muharram)
Puncak ibadah di bulan Muharram berada pada hari kesepuluh, yang dikenal sebagai Hari Asyura. Puasa pada hari ini memiliki keutamaan khusus, yaitu sebagai sarana penggugur dosa setahun yang lalu.
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
4. Nilai Sejarah: Penyelamatan Nabi Musa AS dan Hancurnya Kezaliman
Hari Asyura bukan sekadar momentum ritual ibadah tanpa makna, melainkan sebuah monumen kemenangan ketauhidan. Pada tanggal 10 Muharram, Allah SWT membelah Laut Merah untuk menyelamatkan Nabi Musa AS beserta Bani Israil, sekaligus menenggelamkan Firaun dan seluruh bala tentaranya yang sombong.
Hal ini terekam dalam sebuah hadis syarif:
Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari ini.” Rasulullah SAW bersabda: “Maka aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari no. 2004)
5. Pelajaran Hidup: Bahaya Istidraj bagi Pelaku Zalim
Kisah tragis kehancuran Firaun di penghujung hayatnya memberikan pelajaran mendalam bagi umat manusia setelahnya. Allah SWT memang sering kali menangguhkan azab bagi orang-orang zalim. Namun, penangguhan tersebut bukanlah tanda rida (cinta) Allah, melainkan bentuk Istidraj—yaitu jebakan berupa kenikmatan duniawi yang sengaja dibiarkan melimpah agar pelaku maksiat semakin lalai, sebelum akhirnya dihantam dengan azab yang seketika.
Allah SWT memperingatkan fenomena ini dalam firman-Nya:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Artinya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
Momentum bulan Muharram seyogianya kita jadikan sebagai sarana evaluasi total (muhasabah diri). Sudah saatnya kita menghentikan segala bentuk kezaliman—baik dosa pribadi maupun kezaliman sosial antarsesama manusia—dan menggantinya dengan ketundukan total, memperbanyak puasa sunah, serta amal saleh agar terhindar dari suul khatimah (akhir kehidupan yang buruk) sebagaimana yang dialami oleh Firaun dan para pengikutnya.
Sumber rujukan transkrip: Ceramah Khutbah Jumat Ustadz Jamaludin, Lc. via kanal YouTube Yufid.TV
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here