Tata Cara Bayar Utang Puasa Ramadan, Simak Penjelasannya

Menjelang bulan Ramadhan, banyak umat Muslim harus membayar utang puasanya. (Foto: Fixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, satu pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat yakni soal tata cara membayar utang puasa. Terutama, apakah membayar utang puasa masih diperbolehkan setelah tanggal 15 Sya’ban. Selain itu bagaimana lafal niat puasa qadha yang benar sesuai tuntunan fikih.

Pertanyaan ini wajar muncul, mengingat banyak umat Islam ingin menyambut Ramadan dalam keadaan bersih dari tanggungan ibadah. Islam sendiri memberikan penjelasan yang tegas, lugas, dan memudahkan umatnya dalam urusan ini.

Bolehkah Membayar Utang Puasa Setelah 15 Sya’ban?

Melansir dari nu.or.id, dalam khazanah fikih Islam, dikenal larangan berpuasa setelah tanggal 15 Sya’ban. Namun, penting dipahami, larangan ini hanya berlaku untuk puasa sunah, bukan puasa wajib.

Dalam mazhab Syafi’i, mazhab yang dianut mayoritas Muslim di Indonesia, ditegaskan membayar utang puasa Ramadan (puasa qadha) setelah tanggal 15 Sya’ban hukumnya boleh dan sah. Sebab, puasa qadha merupakan kewajiban yang harus ditunaikan, bukan amalan sunah.

Dengan demikian, umat Islam tidak perlu ragu untuk melaksanakan puasa qadha meski waktu telah mendekati Ramadan.

Apa Itu Puasa Qadha?

Dalam istilah fikih, qadha secara bahasa berarti menunaikan atau menyelesaikan. Sedangkan secara istilah, qadha berarti mengganti ibadah yang ditinggalkan pada waktu yang telah ditentukan, dalam hal ini mengganti puasa Ramadan yang tidak dikerjakan karena uzur syar’i.

Puasa qadha wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang meninggalkan puasa Ramadan. Di antaranya karena sakit, bepergian jauh, haid, nifas, atau alasan lain yang dibenarkan syariat.

Lafal Niat Membayar Utang Puasa Ramadan

Hal penting dalam puasa qadha adalah niat. Niat puasa qadha sama dengan niat puasa Ramadan. Hanya saja kata ada’ (menunaikan) diganti dengan qadha (mengganti).

Berikut lafal niat puasa qadha yang lengkap:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.”

Artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah Swt.”

Jika lafal tersebut dirasa terlalu panjang, niat dapat diringkas sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ قَضَاءِ رَمَضَانَ

“Nawaitu shauma qadhā’i Ramadhāna.”

Artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa Ramadhan.”

Waktu Melafalkan Niat Puasa Qadha

Perlu digarisbawahi, niat puasa qadha wajib dilafalkan pada malam hari, yaitu sejak terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar. Tanpa niat yang dilakukan pada malam hari, puasa qadha tidak sah.

Beberapa Hal Penting Tata Cara Membayar Utang Puasa Ramadan

Agar lebih mudah dipahami, berikut poin-poin pentingnya:

  • Puasa qadha adalah puasa wajib, bukan sunah
  • Boleh dilakukan setelah 15 Sya’ban menurut mazhab Syafi’i
  • Niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari
  • Lafal niat boleh panjang atau ringkas, selama maknanya jelas
  • Puasa qadha bertujuan mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here