
PAPARAN radioaktif Cesium-137 bermula dari temuan pada sampel udang beku yag diekspor PT Bahari Makmuri Sejati (BMS) ke Amerika Serikat, disusul paparan pada cengkih PT NJS di Indonesia.
Detikhealth melaporkan (2/10), paparan zat yang sama (Cs-137) juga ditemukan pada sembilan korban berasal dari sekitar Kawasan Industri Modern Cikande (KIMC), Kab. Serang, Banten.
Sebanyak 1.562 orang di sekitar kawasan KIMC telah menjalani pemeriksaan kesehatan menyusul temuan paparan zat radioaktif Cs-137), sembilan orang di antaranya teridentifikasi terpapar.
Dari insiden ini, seluruh aktivitas di kawasan KIMC sepenuhnya di bawah kendali Satgas sebagai langkah strategis untuk memastikan penanganan menyeluruh, terukur, dan aman bagi lingkungan dan warga.
Zat Cs-137 dapat berbahaya bagi tubuh, terlebih jika orang terkena paparan dalam jangka panjang.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara sekaligus guru besar pulmonologi, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan beberapa ‘jalur masuk’ Cs-137 ke dalam tubuh.
“Dapat terjadi paparan terhadap cesium yang stabil atau radioaktif melalui makanan atau air yang terkontaminasi, atau juga menghirup udara yang terkontaminasi,” terang Prof Tjandra dalam keterangan tertulis, Kamis(2/10).
Cara mauk ke tubuh
Ia menyebutkan kemungkinan cara masuk zat Cesium ke dalam tubuh mengacu pada Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR) yang berada di bawah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS yakni:
Mengonsumsi makanan yang ditanam di tanah yang terkontaminasi Cesium. Saat seseorang mendekati daerah yang merupakan sumber radioaktif Cesium.
Lalu mereka yang bekerja di industri yang memproses ‘natural Cesium’ atau ‘Cesium Compounds’ atau orang yang tinggal di daerah yang terdapat limbah radioaktif tidak terkontrol yang mengandung Cesium.
Prof Tjandra mengungkapkan paparan radioaktif Cs-137 dalam dosis tinggi jarang terjadi. Hanya mungkin terjadi jika ada kecelakaan bom nuklir atau bom atom.
“Keadaan yang amat jarang terjadi ini memang dapat menyebabkan sindrom radiasi akut berupa keluhan mual, muntah, diare, perdarahan, sampai koma, dan bahkan kematian jika paparannya amat tinggi,” tuturnya.
Tak memicu kanker
Paparan jangka panjang dosis rendah Cs–137 tidak meningkatkan risiko kanker pada dewasa, angka kesakitan pada anak, ataupun kelainan pada prenatal.
Cs–137 merupakan substansi radioaktif buatan yang merupakan produk dari reaksi fisi nuklear yang dapat terbentuk secara spontan ketika material radioaktif seperti uranium dan plutonium menyerap neutron dan terjadi reaksi fisi. Cs–137 memiliki paruh waktu selama 30 tahun dan dapat menetap di lingkungan.
Paparan Cs–137 dapat meningkatkan risiko kanker dan peningkatan mortalitas. Di Jakarta, kandungan Cs–137 ditemukan di perumahan daerah Tangerang Selatan. Oleh karena itu, masyarakat perlu antisipasi pada dampaknya dalam jangka panjang. (detikhealth/ns)




