
PERANG antara Rusia dan Ukraina yang berkecamuk sejak invasi negara Beruang Merah itu ke tetangganya sesama sempalan Uni Soviet pada 24 Feb. 2022, belum usai, bahkan bisa dicemaskan bereskalasi ke mana-mana.
Koran digital AS, Politico melaporkan, JumatĀ (7/11), untuk mengantisipasi kemunginan serangan Rusia, kontingen tentara Inggris menggelar latihan di Norwegia selang lebih dari tiga tahun sejak perang di Ukraina pecah (24 Feb. ā25).
Di hutan belantara di kawasan gunung di Norwegia utara, Inggris mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario perang melawan Rusia.
Para perencana militer Inggris berkumpul di kota Bodo, wilayah yang dikelilingi laut dan pegunungan bersalju di Lingkar Arktik, untuk menjalani latihan perang jika Rusia melancarkan aksi di kawasan itu.
Para pemimpin dari negara-negara Nordik (Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia dan Swedia) dan Baltik (Estonia, Latvia dan Lithuhania) diminta mengambil keputusan strategis saat mereka memantau gejolak sipil pro-Rusia di negara tetangga.
Mereka diberi informasi berupa laporan media, pembaruan informasi intelijen, serta unggahan di media sosial untuk menentukan langkah terbaik.
Simulasi tersebut bukan sekadar latihan. Serangan misterius terhadap kabel bawah laut di Baltik, pelanggaran wilayah udara NATO oleh drone dan pesawat Rusia, hingga meningkatnya kapal Rusia di perairan Inggris menunjukkan rapuhnya kawasan utara Eropa.
Sejak invasi Rusia ke Crimea pada 2014, Inggris memimpin pembentukan Joint Expeditionary Force (JEF), sebuah aliansi 10 negara Eropa yang berkomitmen memperkuat pertahanan di utara bdaratan Eropa.
Namun, di tengah perubahan bentuk ancaman Rusia dan sikap AS di bawah pemerintahan Donald Trump yang kian menjauh dari keamanan Eropa, muncul pertanyaan apakah aliansi ini siap menghadapi tantangan baru.
Sebaliknya, Moskwa mengembangkan taktik baru yang menuntut adaptasi cepat dari negara tetangga.
Mencairnya es di kawasan Arktik bahkan membuka jalur laut baru yang sebelumnya tak dapat dilalui dan memicu persaingan sumber daya antara Rusia, AS, dan China.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey, yang ikut dalam latihan di Bodo, mengungkapkan alasan kepada Politico saat penerbangan menuju Perancis.
“Negara-negara ini (Nordic) hidup berdampingan dengan kekuatan militer Rusia setiap hari. Kami yang paling memahami risikonya dan paling siap merespons ancaman tersebut,” papar Healy.
Menurut dia, keunggulan JEF adalah kemampuannya bergerak cepat ketika NATO dengan 32 anggotanya harus mencapai kesepakatan bersama sebelum bertindak.
Negara-negara di kawasan utara juga menilai JEF relevan menghadapi taktik perang modern yang tak selalu melibatkan pertempuran langsung, dikenal sebagai serangan zona abu-abu.
Saling gertak antara kedua poros kekuatan militerĀ global: AS dan Rusia, perlombaan senjata dan manuver-manuver militer yang digelar kedua belah pihak menunjukkan, dunia tidak dalam keadaan baik-baik saja. (Politico/ns)




