Tergolong Filisida Maternal, Kasus Bundir di Bandung Masih Bisa Diproses Hukum

Ilustrasi garis polisi (Foto: Ilustrasi/Ist)

JAKARTA, KBKNEWS.id – Tekanan ekonomi membuat seorang ibu di Bandung, Jawa Barat nekad menghabisi nyawa dirinya dan juga kedua anaknya.

ibu berinisial EN (34) ditemukan tewas gantung diri dan dua anaknya usia 9 tahun dan 11 bulan diduga diracun di sebuah rumah kontrakan di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat (5/9). Peristiwa tragis ini diketahui pertama kali oleh YS, suami EN yang baru pulang kerja pada Jumat (5/9) subuh.

Dalam penyelidikan awal, polisi  menemukan sebuah surat wasiat yang ditinggalkan oleh korban, yang berisi penderitaan hidup dan kekesalan hati sang istri kepada suaminya.

“Mamah, bapa, ibu, bapa, kakak perempuan, kakak laki-laki semuanya maafkan saya, maafkan saya melakukan seperti ini. Saya sudah lelah lahir batin, saya sudah tidak kuat menjalani hidup seperti ini. Saya lelah hidup terlilit hutang yang tidak ada habisnya, malah semakin hari semakin bertambah,” paparnya, dilansir Antara.

Masih dalam surat wasiatnya, EN juga meminta maaf karena harus mengakhiri hidup kedua anaknya, dan dia mengklaim jika jalan tersebut jalan terbaik, meskipun dirinya harus masuk neraka.

“Aa Alif, Dede Arlan, maafkan mamah kalian. Jalannya harus seperti ini, karena sayangnya mamah seperti ini. Mamah lebih rela masuk neraka daripada melihat Aa dan Dede menderita,” tulisnya.

Menanggapi kasus ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan bahwa kasus ini merupakan terkategori filisida maternal.

“Itu termasuk filisida maternal, yakni pembunuhan anak oleh ibu. Kami sudah berkoordinasi, memang faktornya karena masalah ekonomi,” kata Anggota KPAI Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Filisida adalah tindakan orang tua yang membunuh anaknya sendiri dalam keadaan sadar. KPAI  meminta kepolisian untuk tetap melakukan proses hukum kasus ini, sehingga dapat terungkap penyebab kematian korban.

“Sekalipun ini filisida, kami tetap berharap bahwa proses hukum tetap berjalan agar anak ini diketahui penyebab kematiannya secara jelas karena apa. Ya memang dibunuh oleh ibunya, tapi kan faktor utamanya kenapa ibu sampai melakukan demikian juga perlu diungkap,” kata Diyah Puspitarini.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here